[FF / SG / JINBOON / LOVEY DOVEY / PART 4 END]

2

Title : Lovey Dovey
Length : 4 of 4
Genre : SG, Romance
Rating : PG 17
Author : @pjy1314
Main Cast : Lee Jinki, Kim Gwiboon, Nam Woohyun

NB : ini cerita terinspirasi dari komik Jepang dengan judul yang sama . Happy reading~ ^^

Continue reading

[FF / SG / JINBOON / LOVEY DOVEY / PART 3]

1

Title : Lovey Dovey
Length : 3 of 4
Genre : SG, Romance
Rating : PG 17
Author : @realala92
Main Cast : Lee Jinki, Kim Gwiboon, Nam Woohyun

NB : ini cerita terinspirasi dari komik Jepang dengan judul yang sama.

Continue reading

FF / YAOI / JINKIBUM / REAL STORY / 1S

1

Title : Real Story
Part : 1 of ?
Genre : school life, romance, yaoi
Rating : PG 15
Main Cast : Lee Jinki, Kim Kibum
Other Cast : Lee Taemin, Choi Minho
Author : @realala92

NB : ini ff terinspirasi dari lagu Real Story nya Infinite. Arti lagunya bagus banget, aku suka bangeeeet ^^

***

Hey, wait a second, I only look at you.

Even if I don’t act like it, I’m paying attention.

Hey, it’s constant, there’s no change.

.
.
.

BRAK

Seorang namja cantik membuka pintu ruang musik dengan terburu-buru, membuat seorang namja tampan yang sedang bermain piano di dalamnya sedikit terlonjak kaget. Terlebih lagi saat namja cantik itu duduk di sampingnya, duduk berdua di kursi piano yang memang hanya disediakan untuk dua orang.

Namja tampan itu kembali memainkan jari-jarinya dengan mahir di atas tuts tuts piano itu setelah menunggu selama beberapa menit namun namja cantik di sebelahnya hanya bergeming, tak mengatakan sepatah katapun.

“Huks…”

Refleks namja tampan bermata bulan sabit itu menghentikan permainan pianonya ketika mendengar suara isakan yang lolos dari mulut namja cantik di sampingnya. Memandang namja cantik yang menundukkan wajahnya itu, tubuhnya bergetar karena terisak.

“Ada apa?” Namja tampan itu menanyakan apa yang membuat namja cantik itu terisak seperti ini. Terlihat sangat menyedihkan, dan dia tidak suka itu.

“Jinki..aku mencintaimu..huks..”

Namja tampan itu tertawa pelan mendengar perkataan namja cantik itu. Dia tau benar apa yang namja cantik itu rasakan kepadanya, bahkan hampir setiap hari dia mengucapkan kata-kata itu.

Aku mencintaimu…

“Berhentilah menangis Kibum…” Hanya sepatah kalimat itu yang keluar dari mulut namja tampan bernama Lee Jinki itu, kemudian dia kembali melanjutkan permainan pianonya.

You ask me again today, if I love you.

I only laugh and ask why you say that again.

You cry again today, saying I’m too much.

It’s just the same answer to the same question.

***

“Taemin..apa aku harus menyerah?” Kibum itu terlihat frustasi. Saat ini dia sedang berada di kamar sahabatnya bernama Lee Taemin, kamar yang di dominasi dengan warna kuning dan pernak-pernik bermotif pisang.

Namja cantik berambut almond itu hanya menghela nafas saat mendengar perkataan sahabatnya itu. Mungkin sudah kelima puluh kalinya Kibum mengatakan itu, namun tetap saja dia tidak akan menyerah mempertahankan Jinki sebagai kekasihnya. Jadi percuma saja dia menjawab pertanyaan Kibum barusan. Tak akan berarti apa-apa.

“Apa perlu aku jawab?” Taemin memutar bola matanya jengah.

“Aku sangat mencintainya…” Kibum hanya bergumam pelan, sorot matanya yang sayu itu entah sedang menerawang kemana. Menghempaskan tubuhnya di kasur empuk milik Taemin, menatap langit-langit kamar Taemin yang penuh dengan burung-burung kertas berwarna kuning yang bergantungan, hadiah dari Minho kekasihnya. Minho bilang bila membuat seribu burung kertas maka permintaan kita akan terkabul, dan permintaannya adalah berada di samping Taemin selamanya. Ck..terlalu konyol namun terasa sangat romantis. Kapan Jinki bisa seperti itu?

Kibum memang tidak pernah berharap terlalu banyak seperti itu, ok..mungkin Jinki memang tidak ada waktu membuat seribu burung kertas seperti yang Minho lakukan karena perlombaan piano yang membuatnya cukup sibuk ditambah jabatannya sebagai ketua osis di sekolah. Kibum hanya perlu lima detik saja waktu Jinki, lima detik untuk mengatakan ‘Aku mencintaimu…’ Itu saja, tidak lebih.

Sudah hampir 2 tahun mereka menjalin kasih, namun Jinki sama sekali belum pernah mengucapkan kata-kata itu. Lalu bagaimana mereka bisa berpacaran? Kalian pasti bertanya seperti itu.

“Kibum…mulai saat ini kita berpacaran ya?”

Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Jinki saat dia mengajak Kibum berpacaran. Tak ada kata cinta, tak ada setangkai bunga, sama sekali tak ada suasana romantis. Bahkan Jinki mengatakannya di ruang osis, saat mereka berdua sedang membuat proposal untuk festival musik di sekolah.

Dan hari-haripun berlalu dengan status baru diantara mereka, namun tak ada perubahan dari diri Jinki terhadap Kibum. Dia tetap saja terlihat dingin dan tak pernah memperhatikan Kibum. Hubungan mereka benar-benar terasa kaku dan monoton, dan itu semua membuat Kibum merasa Jinki tidak mencintainya. Sering kali namja cantik itu berpikir untuk mengakhiri ini semua, namun dia sadar kalau dia sangat mencintai Jinki, dia tidak bisa hidup tanpa namja tampan itu.

Kibum mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas tepat di samping ranjang Taemin, sepertinya malam ini dia akan menginap di rumah Taemin, dia butuh seseorang untuk mendengarkan curahan hatinya. Memencet beberapa tombol virtual pada gadget putih miliknya itu.

To: Jinki ♥

Selamat malam Jinki . Jangan lupa mimpikan aku ^^
Aku mencintaimu…

Menatap was-was layar ponselnya, menunggu Jinki membalas pesan singkatnya. Haaah..masih berharap Jinki akan menulis ‘Aku mencintaimu juga..’

Drrrttt.. Drrrttt..

Ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Kibum langsung bersemangat membukanya.

From : Jinki ♥

Selamat malam ^^

Raut wajah Kibum kembali tak bersemangat ketika membaca balasan pesan yang Jinki kirimkan untuknya. Hanya dua patah kata selamat malam?

Namja cantik itu menghempaskan ponselnya asal, kemudian menutup wajahnya menggunakan bantal milik Taemin. Dia ingin menangis…sungguh ini membuat dadanya sesak. Apa begitu sulit untuk bilang dua buah kata ‘aku mencintaimu’?

“Jinki…aku mencintaimu…sangat mencintaimu…”

Taemin hanya memandang miris sahabatnya itu. “Kibum…aku ada film baru. Lebih baik kita menonton sampai pagi!”

***

Namja cantik itu langsung bergegas keluar kelas saat mendengar bunyi bel tanda waktu istirahat berbunyi, tak lupa dia membawa tas pink kecil miliknya yang berisikan dua buah bekal makan siang untuk dirinya dan Jinki. Mereka berdua memang selalu menghabiskan waktu istirahat berdua di taman belakang sekolah, Kibum selalu merasa itu bagaikan piknik. Apa itu terdengar romantis?

Yaa..itu akan romantis kalau mereka makan sambil mengobrol atau bercanda, tapi ini? Jinki hanya bicara seadaanya saja, itupun kalau Kibum bertanya padanya. Lebih banyak mereka habiskan dengan makan dalam diam. Tapi Kibum selalu bersemangat kalau waktu istirahat tiba, setidaknya dia bisa berduaan saja bersama Jinki dan mendengar Jinki mengatakan bahwa masakannya enak. Itu saja sudah cukup membuat Kibum bahagia.

“Itu kekasihnya Jinki kan? Apa benar Jinki menyukainya?”

“Entahlah..aku lihat Jinki biasa-biasa saja kepadanya, hanya namja itu saja yang terlihat sangat bahagia di samping Jinki.”

DEG

Kibum tertegun saat tak sengaja mendengar percakapan teman sekelas Jinki yang baru saja melewatinya. ‘Jinki biasa-biasa saja kepadanya..’ Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Dia merasakan sesak itu kembali menghantuinya. Dia ingin menangis, namun dia rasa air matanya sudah terkuras habis karena semalaman dia menangis menonton film A Walk to Remember bersama Taemin. Dasar Taemin bodoh, dia bilang ingin menghibur Kibum dengan film baru yang dia beli, tapi nyatanya mereka berdua malah menangis semalaman karena film itu. Apa lagi saat Jamie Sullivan terkena leukimia, mereka berdua sampai menangis menggerung-gerung sambil berpelukan. Ditambah lagi dengan suasana hati Kibum yang kesal atas sikap Jinki, maka Kibum menangis sejadi-jadinya akibat film dan perasaannya.

.
.
.

“Kibum..kenapa dari tadi kau hanya diam saja?” Tanya Jinki saat merasa Kibum tidak seperti biasanya. Namja cantik itu hanya diam sambil memakan bekal yang dibuatnya, tak berniat mengajak Jinki mengobrol seperti hari-hari sebelumnya.

Kibum meletakkan bekal yang dipegangnya, dia menghela nafas panjang kemudian menatap Jinki serius.

“Aku sedang berpikir apa lebih baik kita akhiri saja hubungan ini?”

Jinki tercekat mendengar perkataan Kibum, dia tau kalau selama ini namja cantik itu merasa tertekan dengan hubungan ini karena sikap Jinki yang dingin, namun baru kali ini Kibum mengatakan hal seperti ini. Dia ingin putus?

“Kalau itu membuatmu bahagia, aku tidak akan menolaknya…”

Tenang. Jinki mengatakan kalimat itu dengan sangat tenang, sangat bertolak belakang dengan hatinya yang bergejolak hebat menolak perkataan Kibum.

Kibum menatap Jinki dalam, matanya sudah berkaca-kaca dan mungkin dalam hitungan detik kedepan air mata itu akan mengalir dari matanya yang indah. Hatinya terasa sakit mendengar jawaban Jinki. Kenapa dia tidak menolak nya? Kenapa dia terlihat sangat tenang seperti itu? Apa benar dia tidak mencintai Kibum? Semua pertanyaan itu berputar di otak namja cantik itu.

“Huks…aku tidak bisa…aku terlalu mencintaimu…”

Jinki mengangkat tangannya untuk menghapus air mata yang membasahi pipi tirus Kibum. Lihatlah…dia tetap terlihat cantik walau sedang menangis seperti ini. “Berhentilah menangis…”

Are those words that hard to say?

Is it hard for me to do something that everyone does?

Do I need to say it for you to know?

I love  you every day.

***

Jinki tersenyum saat melihat Kibum berteriak senang karena shot yang dia lakukan membuat bola basket yang tadi dipegangnya masuk dengan sempurna ke dalam ring. Namja cantiknya yang selalu terlihat sempurna baginya..senyumnya yang menawan, wajahnya yang cantik, sifatnya yang ramah, otaknya yang cerdas, hah..semua yang ada di diri Kibum selalu membuatnya mencintai namja itu hari ke hari.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Tiba-tiba Minho datang menghancurkan lamunan Jinki yang sedari tadi sedang menatap Kibum dari jendela kelasnya. Kebetulan saat ini kelas Jinki sedang tidak ada pelajaran karena guru yang bersangkutan sedang sakit dan kelas Kibum sedang dalam pelajaran olahraga, sehingga dia bisa leluasa memperhatikan namja cantiknya.

“Kau tidak sedang memperhatikan Taeminku kan?” Minho hanya menggoda Jinki, dia tau benar kalau sahabatnya itu sedang memperhatikan Kibum. Bahkan hampir setiap hari Jinki melakukannya, tanpa sepengetahuan Kibum.

“Ck..untuk apa aku memperhatikan kekasihmu.” Jawab Jinki kesal karena pertanyaan bodoh yang dilontarkan oleh Minho.

Minho terkekeh mendengar ucapan Jinki, sahabatnya ini benar-benar tidak bisa diajak bercanda. Pandangan Minho beralih ke sebuah buku bersampul putih yang berada di atas meja Jinki, dia mengambil buku itu dengan cepat tanpa seijin pemiliknya yang saat ini kembali memperhatikan kekasihnya di lapangan basket.

“11 April 2012.. Hari ini dia terlihat sangat cantik dengan seragam olahraga yang dipakainya. Baiklah..ini memang bukan pertama kalinya aku melihatnya menggunakan seragam itu, tapi aku tidak pernah bosan untuk memuji kecantikannya. Ya..kecantikan seorang Kim Kibum, kekasihku.”

Jinki langsung mengalihkan pandangannya ke arah Minho saat mendengar Minho mengucapkan kalimat-kalimat yang tak asing baginya. Dan..aish, ternyata dugaannya benar, saat ini Minho sedang membaca buku kesayangannya atau bisa dibilang itu buku..err..diary?

“10 April 2012… Hari ini pertama kalinya kata-kata itu keluar dari bibir merah apel miliknya. Dia ingin semua ini berakhir… Jantungku berdetak lima kali lebih kencang saat mendengarnya. Aku ingin menolaknya..aku tidak ingin kehilangan dirinya…tapi kenapa bibir ini berkata lain?”

“Stop Choi Minho!”

Jinki mengambil paksa buku yang sedang di baca Minho itu, menatap Minho marah. Dia tidak suka seseorang menyentuh barang privasinya tanpa ijin darinya, walaupun dia adalah sahabatnya.

“Jinki..kau harus mengungkapkan itu semua pada Kibum. Kau tau, selama ini kau selalu menyakitinya dengan sikapmu yang seolah-olah tidak perduli padanya.”

“Aku perduli padanya!”

“Aku tau..tapi bagaimana dengan Kibum? Apa dia tau? Apa kau pernah menunjukkan hal itu kepadanya?”

Jinki terdiam. Dia tau perkataan Minho itu sangat benar. Bagaimana mungkin Kibum tau kalau dia perduli pada Kibum sedangkan dirinya tak pernah menunjukkannya kepada Kibum?

“Apa semuanya harus ditunjukkan dengan kata-kata? Apa dia tidak bisa merasakan perasaanku sesungguhnya lewat perbuatan dan tatapanku padanya?”

Minho kembali terkekeh mendengarnya. “Perasaan dan perbuatan memang penting, tapi mereka juga membutuhkan kepastian lewat kata-kata. Dua buah kata ‘aku mencintaimu’ saja cukup membuat mereka bahagia dan merasa kau bersungguh-sungguh padanya.” Minho tersenyum sendiri karena perkataannya, dia juga tidak menyangka dapat berkata seperti itu. Ck..menjadi penasehat cinta Jinki sedangkan hubungannya dengan Taemin juga sering mendapat gangguan.

Is it really that important?

Is my heart not enough?

I really don’t know. Why is it important about what others do?

“KYAAAA…”

Jantung Jinki serasa berhenti berdetak saat mendengar teriakan Kibum dari arah lapangan, dia melihat Kibum terjatuh di lapangan dengan darah segar mengalir dari hidungnya. Tanpa aba-aba lagi, namja tampan itu berlari keluar kelas menuju lapangan basket.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya khawatir ketika sudah berada di hadapan Kibum, nafasnya memburu karena berlari seperti orang kesetanan dari kelasnya di lantai dua. Jinki langsung mengangkat tubuh ramping Kibum ala bridal style dan membawanya ke ruang kesehatan, tak meperdulikan berpuluh-puluh mata yang menatap mereka.

.
.
.

“Kenapa kau datang?” Pertanyaan aneh itu keluar dari mulut Kibum.

Seolah-olah tak mendengar pertanyaan Kibum barusan, Jinki hanya diam sambil tetap membersihkan darah yang masih keluar dari hidung namja cantik itu. “Kenapa bisa berdarah seperti ini?”

“Hanya merasa ada seseorang yang memperhatikanku, aku pikir itu dirimu. Tapi saat aku lihat ke arah kelasmu, kau malah sedang asik mengobrol dengan Minho dan pada saat itu bola basket sialan itu melayang ke arahku.”

Jinki terdiam. Dia ingin sekali bilang kalau dia memang sedari tadi memperhatikan segala tingkah laku Kibum dari ia keluar kelas sampai berolah raga di lapangan, semuanya tak luput dari pandangan mata bulan sabitnya.

“Sudah bersih.” Ucap Jinki saat melihat permukaan kulit di sekitar lubang hidung Kibum sudah bersih dari noda darah yang sudah berhenti mengalir. “Kau tunggu disini, aku akan mengambil tas dan surat ijin untukmu.”

Jinki bangkit dari duduknya, kemudian berlalu begitu saja keluar dari ruang kesehatan meninggalkan Kibum yang masih menatap pintu yang membuatnya tak dapat melihat sosok Jinki lagi setelah namja itu menutupnya.

“Jinki…aku mencintaimu…”

Kembali menggumamkan kata-kata itu, seperti sebuah robot yang telah diprogram untuk mengatakan hal itu setiap hari. Takkan pernah bosan. Mungkin sampai waktu di sekitarnya berhenti berputar.

***

Drrrtttt… Drrrtttt…

Ponsel milik Kibum bergetar dengan layar berkelap-kelip tanda ada sebuah panggilan masuk. Namja cantik itu mengambil ponselnya dengan malas, orang yang menelponnya pasti Taemin. Sahabatnya itu biasanya akan menelpon kalau Minho melalukan sesuatu yang membuatnya senang, ck..dia selalu iri dengan Taemin yang beruntung mendapatkan kekasih seromantis Minho. Setiap akhir pekan mereka berdua pasti akan berkencan di tempat yang berbeda-beda, dan Taemin pasti akan menunjukkan foto-fotonya kepada Kibum.

Pernah suatu akhir pekan Minho tak menghubungi Taemin sama sekali, dan tentu saja itu membuat Taemin marah padanya. Namun ternyata alasannya tak menghubungi Taemin adalah dia membuat seribu burung kertas berwarna kuning dalam waktu 2 hari! Ya..seribu burung kertas yang sekarang tergantung menutupi langit-langit kamar Taemin. Dan kekasih mana yang tidak luluh bila mendapat hadiah seperti itu? Benar-benar membuat iri!

Jinki? Kibum tertegun saat melihat nama Jinki berada di layar ponselnya yang berkedip.

Jinki ♥ calling…

Kibum masih terdiam memandang ponselnya. Ini jarang sekali terjadi! Jinki menelponnya duluan! Mungkin ini baru yang ketiga kalinya dalam dua tahun mereka berpacaran. Pertama, Jinki hanya menelpon untuk memastikan kebenaran nomor Kibum yang baru saja menjadi kekasihnya. Kedua, saat Kibum berulang tahun, dia hanya mengucapakan “Happy birthday Kibum” dan itu pada pukul 12 siang! Bukan pukul 12 tengah malam! Bahkan saat anniversary pertama mereka Jinki sama sekali tidak menelpon, dia hanya mengirim pesan singkat kepada Kibum ditambah pesan multimedia berupa foto pertama mereka kencan.

“Yoboseyo…” Akhirnya Kibum menekan tompol virtual hijau setelah tersadar dari rasa terkejutnya.

Tak ada sahutan dari Jinki, membuat Kibum berpikir kalau itu hanya tak sengaja terpencet. Mungkin saja Jinki tak sengaja mendudukkan ponselnya sehingga ponselnya menelpon nomor Kibum.

“Jinki..apa kau disana?” Namja cantik itu kembali bertanya untuk memastikan.

Masih tak ada sahutan dari Jinki.

“Kalau kau hanya diam saja lebih baik aku tutup saja ya..” Baru saja Kibum ingin menekan tombol virtual merah, suara Jinki akhirnya terdengar walau pelan.

“Ah..Kibum…”

“Ya?”

“Apa sebuah kalimat aku mencintaimu sangat penting untukmu?”

“Nde?” Kibum sedikit bingung dengan arah pembicaraan Jinki.

“Ah..tidak..lupakan saja.”

“…”

“Kibum…aku sudah ada di depan rumahmu. Cepat keluar.”

KLIK

Jinki memutuskan sambungan teleponnya, membuat Kibum mengerutkan keningnya belum terlalu paham dengan maksud Jinki. Sampai akhirnya dia melihat mobil audi hitam milik Jinki sudah terparkir tepat di depan rumahnya. Tanpa ba-bi-bu lagi Kibum melesat keluar, bahkan dia tidak mengganti bajunya yang hanya mengenakan pakaian tidur berupa celana training hitam panjang dengan list putih dipinggirnya dan sebuah t-shirt berlengan panjang berwarna putih dengan gambar cartoon Lady Gaga penyanyi favoritenya.

“Ada apa?” Kibum bertanya saat dia masuk ke dalam mobil Jinki.

Jinki tak menjawabnya, namja tampan itu malah menghidupkan mesin mobilnya. Dan menancap gas, membuat mobilnya semakin menjauh dari rumah Kibum.

“Ya! Jinki kita mau kemana?”

“Kenapa kau memakai baju tidur seperti itu?” Bukannya menjawab pertanyaan Kibum, Jinki malah balik bertanya kepada namja cantik itu.

“Kau tidak bilang akan mengajakku pergi! Kau hanya menyuruhku keluar!” Kibum mengerucutkan bibirnya sebal. Jinki memang selalu seenaknya seperti ini, selalu sulit untuk dimengerti apa yang sedang dia pikirkan.

“Kau jelek bila cemberut seperti itu…”

.
.
.

“Pantai…kenapa kita kesini?” Kibum kembali bertanya saat Jinki mematikan mesin mobilnya tepat di pinggir sebuah pantai.

Hening..
Jinki hanya terdiam sejak mereka sampai di sana. Tak ada sepatah kata penjelasan apapun yang keluar dari mulutnya. Bibir tebalnya pun hanya terkatup rapat. Hanya suara deburan ombak yang terdengar memecah kesunyian.

Tuk tuk tuk
Kibum mengetuk-ngetuk dashboard mobil Jinki dengan jari-jarinya yang lentik, menandakan kalau dia sudah mulai bosan karena hampir setengah jam mereka di sini dan namja tampan di sampingnya masih saja terdiam memandang hamparan air di hadapan mereka. Mungkin saja bila sepuluh menit lagi Jinki tak bicara apapun, Kibum akan tertidur sanking bosannya.

“Kibum..buka saja laci dashboard itu.”

Hah?
Kibum menatap Jinki bingung. Akhirnya namja tampan itu mengeluarkan suara juga walaupun perkataannya sedikit aneh. Dia menuruh Kibum membuka laci dashboard mobilnya? Untuk apa?

Kibum membuka mulutnya hendak bertanya kepada Jinki, namun dia mengurungkan niatnya karena dia yakin betul Jinki tak akan menjawab pertanyaannya. Dengan perlahan Kibum membuka laci dashboard yang sedari tadi diketuknya.

Kibum melihat terdapat beberapa lembar kertas dan sebuah buku bersampul putih di dalamnya. Dengan perlahan dia mengambilnya. “Apa ini?” Tanyanya bingung melihat berlembar-lembar kertas dengan gambar yang sama, sepuluh gambar burung berwarna pink di setiap lembarnya.

“Burung itu berjumlah seribu.”

“…”

“Bukankah kau bilang Minho sangat romantis saat memberikan seribu buah burung-burung kertas?”

Kibum tertawa kecil mendengarnya, mulai mengerti apa maksud Jinki, dia tak menyangka bahwa Jinki selalu mengingat kata-katanya waktu itu.

“Aku tak sempat membuat burung-burung kertas menggunakan kertas lipat, jadi aku mencetaknya saja dengan printer. Tapi burung itu benar-benar berjumlah seribu.” Jelas Jinki tanpa memandang paras cantik Kibum sedikitpun, pandangannya masih tak lepas dari hamparan lautan berombak di hadapannya.

“Lalu apa harapanmu?”

“Harapan?”

“Ya. Minho bilang bila kita membuat seribu burung kertas maka harapan kita akan dikabulkan. Jadi aku ingin tau apa harapanmu?”

“Memangnya apa harapan Minho?” Jinki malah balik bertanya.

Kibum berpikir keras, berusaha mengingat perkataan Taemin tentang harapan Minho. “Berada di samping Taemin selamanya.”

“Kalau begitu harapanku juga sama.”

“Apa? Kau juga ingin berada di samping Taemin?” Kibum terbelalak mendengar jawaban Jinki, sempat terbesit di otaknya kalau kekasihnya itu menyukai sahabatnya. Oh bila seperti itu kenyataannya mungkin besok ia hanya tinggal nama!

Jinki memutar bola matanya, sedikit kesal karena kepolosan kekasihnya ini. Dia memutar tubuhnya menghadap Kibum. “Bukan dengan Taemin, tapi dengan namja bodoh di hadapanku.”

Kibum mengedip-ngedipkan matanya, berusaha meyakinkan kalau ini bukan khayalannya saja.

“Buka buku itu.” Jinki menunjuk buku bercover putih yang berada di pangkuan Kibum, kemudian dia membuka seatbelt yang menempel di tubuhnya dan keluar dari dalam mobil. Jinki berdiri sambil menyenderkan tubuhnya di kap mobil bagian depan membiarkan angin laut yang menerpa tubuhnya, membuat rambut coklat gelapnya bergerak-gerak tertiup angin malam yang cukup kencang, meninggalkan Kibum yang masih menatap bayangan Jinki yang terlihat dari jendela mobil yang transparan.

Jari-jari Kibum mulai membuka cover depan buku itu, terdapat initial LJ di halaman pertama yang Kibum yakin itu adalah singkatan dari Lee Jinki.

12 Januari 2010

Hari ini aku bertemu seorang malaikat cantik tanpa sayap.
Parasnya yang cantik membuatku terpesona.
Jantungku seakan berhenti berdetak saat dia mendekatiku.

“Apa kau tau dimana ruang osis?”

Itu adalah kalimat pertama yang dia ucapkan kepadaku.
Suaranya sangat lembut, membuat hatiku terasa begitu nyaman.

Sepertinya aku menyukainya…

-LJ-

Kibum merasa de’javu dengan kejadian yang Jinki tulis ini. Tak lama sebuah senyum manis menghiasi wajahnya. Dia mengingatnya. Mengingat saat pertama kali melihat Jinki, saat itu dia bertanya dimana letak ruang osis karena ingin mendaftar sebagai pengurusnya.

Kibum kembali membalik ke lembar berikutnya.

04 Februari 2010

Aku terpilih sebagai ketua Osis, dan dia menjabat sebagai sekretaris Osis.
Dia yang ku maksud adalah Kim Kibum, malaikat yang aku ceritakan sebelumnya.

Jujur..alasanku mendaftar sebagai ketua osis adalah dirinya.
Aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku.
Yang jelas aku merasa tak ingin jauh darinya…

-LJ-

Malaikat? Kibum benar-benar tak menyangka bahwa Jinki menganggapnya sebagai malaikat, makhluk paling suci di dunia ini.

Namja cantik itu membaca lembar perlembar buku yang berisikan tulisan Jinki yang terlihat sangat rapi. Jinki benar-benar orang yang tidak mudah ditebak, semua curahan hatinya tertulis dalam buku itu, hal-hal yang tak pernah Kibum sangka sebelumnya semua terpecahkan saat membacanya. Kibum terkekeh bila membayangkan seorang Lee Jinki yang dingin dan misterius menulis sebuah err..buku diary? Benar-benar bertolak belakang dengan sifatnya.

20 Oktober 2010

Hening…
Hanya suara jarum jam dan suara keyboard yang ditekan Kibum yang terdengar di ruangan ini.
Hanya kami berdua. Aku dan Kibum.
Kami sedang membuat sebuah proposal untuk kegiatan musik sekolah.
Aku merasa beruntung karena petugas lainnya berhalangan untuk hadir membuat proposal ini.

Aku menatap paras cantiknya yang serius menatap monitor di hadapannya.
Cantik…
Aku ingin memilikinya..

“Kibum…mulai saat ini kita berpacaran ya?”

Akhirnya kalimat itu keluar dari mulutku.
Dan kulihat dia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya dengan yang aku ucapkan.
Sampai akhirnya dia menganggukkan kepalanya pelan.
Mulai saat itu dia benar-benar telah mencuri hatiku…

-LJ-

Kibum mengingatnya. Saat Jinki mengajaknya berpacaran, mungkin itu adalah hari paling membahagiakan di hidupnya. Seorang Lee Jinki yang diam-diam disukainya mengajaknya berpacaran, jadi mana mungkin dia melupakan hari itu!

18 July 2011

Hari ini dia datang menemuiku.
Dia menceritakan tentang Minho yang memberi kejutan pada Taemin dengan memberikan seribu burung kertas.
Dia bilang itu sangat romantis.

Aku juga ingin melakukan hal-hal seperti itu, tapi itu bukan sifatku.
Dan aku harap dia bisa menerima sifatku ini…

-LJ-

Kembali terkekeh melihat berlembar-lembar kertas bergambar burung yang ada di pangkuannya. Walaupun ini bukan terbuat dari kertas lipat dan hanya berupa gambar tapi Kibum dapat merasakan ketulusan yang Jinki berikan.

24 September 2011

Hari ini dia ulang tahun.
Aku terjaga semalaman.
Aku ingin menghubunginya saat jam dikamarku menunjukkan tepat pukul 12 tengah malam.

Kuambil selembar kertas dan mulai merangkai kata-kata yang akan aku ucapakan padanya.
Dan lagi-lagi rencanaku gagal karena kata-kata yang aku rangkai semalaman itu terasa tercekat di tenggorokanku.
Aku benar-benar merasa sangat payah.

Sampai akhirnya aku hanya mengirim pesan bertuliskan “Happy birthday Kibum” kepadanya.
Aku harap dia merasakan ketulusanku…

-LJ-

“Dasar bodoh..” Kibum berdesis membacanya. Seorang Lee Jinki yang mampu membacakan pidato dengan durasi 30 menit, tak mampu mengucapkan kata-kata selamat ulang tahun secara langsung kepadanya?

06 April 2012

Lagi-lagi dia menangis.
Dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku.
Kata-kata yang selalu diucapkannya untukku.

Dan bodohnya aku hanya bisa bilang “Berhentilah menangis…”
Bahkan aku tak memeluknya, tak membiarkannya menangis dipelukanku…

-LJ-

Setetes air mata menetes dari mata Kibum yang sangat indah dan tajam, salah satu bagian tubuh Kibum yang menjadi favorite Jinki. Mata yang benar-benar indah bagaikan sebuah permata yang bersinar, membuat Jinki betah untuk menatapnya. Sorot matanya yang tajam namun penuh kelembutan membuat paras Kibum semakin terlihat sempurna.

10 April 2012

Hari ini pertama kalinya kata-kata itu keluar dari bibir merah apel miliknya.
Dia ingin semua ini berakhir…
Jantungku berdetak lima kali lebih kencang saat mendengarnya.

Aku ingin menolaknya..
Aku tidak ingin kehilangan dirinya…
Tapi kenapa bibir ini berkata lain?

-LJ-

Itu adalah perkataan terbodoh yang keluar dari mulut Kibum. Mengakhiri hubungannya dengan Jinki? Dia benar-benar akan menjadi gila kalau itu terjadi. Baginya Jinki adalah separuh nyawanya, kehilangan Jinki sama saja dengan kehilangan separuh nyawanya…

11 April 2012

Hari ini dia terlihat sangat cantik dengan seragam olahraga yang dipakainya.
Baiklah..ini memang bukan pertama kalinya aku melihatnya menggunakan seragam itu, tapi aku tidak pernah bosan untuk memuji kecantikannya.

Ya..kecantikan seorang Kim Kibum, kekasihku…

-LJ-

Cantik? Bahkan kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut Jinki. Betapa bahagianya seorang Kim Kibum bila mendengar Jinki bilang bahwa dirinya cantik. Medengar Jinki memuji masakannya saja bisa membuatnya tidak bisa tidur semalaman, apalagi bila Jinki memujinya cantik seperti itu?

14 April 2012

Aku kembali memikirkan perkatan Minho tempo hari.
Perasaan dan perbuatan memang penting, tapi kepastian lewat kata-kata juga penting.

Aku akan mengungkapkan semuanya hari ini.
Dia harus tau perasaanku yang sebenarnya…

-LJ-

Itu adalah halaman terakhir yang Jinki tulis. Ya..itu adalah tanggal hari ini.

Kibum langsung berlari keluar dari mobil dan mengambur dalam pelukan Jinki. Dia memeluk tubuh Jinki erat, membiarkan air matanya membasahi kaos putih yang Jinki kenakan dibalik jaket hitam yang menjaga tubuhnya dari udara dingin. Air mata bahagia…kibum benar-benar terharu membacanya.

“Jinki..aku mencintaimu..sangat sangat mencintaimu…selamanya aku akan mencintaimu…”

Jinki melepaskan pelukan Kibum di tubuhnya, kemudian dia menangkupkan kedua tangannya di pipi tirus Kibum yang sedikit lembab terkena air matanya. Menatap bola mata Kibum yang berkaca-kaca.

“Kau harus tau tentang perasaanku. Aku tak akan mengulanginya. Jadi kau dengarkan baik-baik..”

Kibum menganggukkan kepalanya mendengar perintah Jinki.

“Kibum..aku..err…aku…”

Why wouldn’t I know those words of ‘I love you’.

It’s tickling me as it’s around my neck.

Why wouldn’t I be able to do it, those words that are on my mouth.

“…mencintaimu.”

“Huks…kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu bodoh!” Kibum memukul dada Jinki kesal. Kata-kata yang selama ini ditunggunya, akhirnya keluar juga dari mulut Jinki. Dan itu membuatnya sangat bahagia! Sangat sangat bahagia!!!

“There’s really no big meaning to it if I keep on repeating it.”

“Aku juga mencintaimu..”

Jinki tersenyum mendengarnya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Kibum yang saat ini sudah merona merah. Membiarkan bibirnya menempel pada permukaan bibir Kibum yang sangat lembut dan manis. Hanya sebuah ciuman lembut dan tak banyak menuntut, ciuman yang membuat Kibum yakin akan perasaan Jinki kepadanya. Ciuman pertama mereka…

14 April 2012

Akhirnya aku mendengar kata-kata itu keluar dari si pemilik buku ini.
Kata-kata “AKU MENCINTAIMU”!!!

Dan.. umh.. hari ini juga dia menciumku!
Ciuman pertama kami.
Ciuman yang begitu lembut dan memabukkan.
Rasanya jantungku berdebar tak karuan bila mengingatnya.
Aku malu!!!

AAAAAA…aku rasa aku tidak akan bisa tidur hari ini. Karena aku berniat untuk menelpon Taemin semalaman, menceritakan tentang kejadian yang baru saja aku alami dengan kekasihku.
Kekasih yang sangat aku cintai sekarang dan selamanya.

Lee Jinki..aku tidak akan pernah bosan mengucapakan “Aku cinta kepadamu” setiap hari, dan aku harap kau juga tidak akan pernah bosan mendengarnya.

AKU MENCINTAIMU LEE JINKI!!!!

-KK-

“Ya! Kenapa kau menulis dibuku ku?!” Kibum hanya tertawa lebar mendengar protes dari Jinki yang saat ini sibuk menyetir mobil.

Hah..hari ini takkan pernah terlupakan ^^

I become sorry to the smiling you.

I feel like I’m tying you up, with the word of love.

It’ll become lighter. With whispers through the ears, side by side.

You’ll never be sad.

I’ll change gradually with those words I cherish and without change, I’ll stay by your side.

I’ll do better and better. Because I know you well.

***

“Jinkiiiiiii….” Kibum berlari mengejar Jinki yang baru saja keluar dari ruang musik. Seperti biasa namja tampan itu pasti menghabiskan waktu luangnya dengan bermain piano.

“Ada apa?”

“Aku mencintaimu….”

“Aku tau.” Jawabnya singkat kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas, meninggalkan Kibum yang tersenyum penuh arti.

Dia tidak berubah…
Tetap menjadi Lee Jinki yang dingin dan misterius seperti sebelumnya…

Tapi ada satu hal yang berubah…
Tentang perasaannya yang sesungguhnya…

Bahwa Lee Jinki sangat mencintai Kim Kibum ^^

-THE END-

Huaaaa…akhirnya ini FF selesai!! \(´▽`)/
FF selingan karena ide aku mentok untuk lanjutin Lovey Dovey . Hehe

RCL nya jangan lupa yaa ^^
Thanks 🙂

[FF / SG / JINBOON / LOVEY DOVEY / PART 2]

3

Title : Lovey Dovey
Length : 2 of ?
Genre : SG, Romance
Rating : PG 17
Author : @realala92
Main Cast : Lee Jinki, Kim Gwiboon, Nam Woohyun

NB : ini cerita terinspirasi dari komik Jepang dengan judul yang sama . Happy reading~ ^^

***
Bertahan…

Menunggu kau menatapku…

Berharap kau menyadari perasaanku…

Berdoa agar kau melihat sosokku…

Sampai waktu yang akan membuatku mengentikannya…

***
“Gwiboon-a, kau darimana saja? Aku dengar tadi Jinki membawamu pergi? Apa yang dia lakukan?”

Gwiboon tersenyum kecil mendengar pertanyaan-pertanyaan yang Woohyun lontarkan, ditambah dengan wajahnya yang terlihat sangat cemas. “Dia tidak melakukan apa-apa, oppa. Dia hanya mengembalikan barangku yang terjatuh.” Ok, untuk yang kesekian kalinya Gwiboon berbohong pada Woohyun karena namja menyebalkan bernama Lee Jinki itu.

“Benarkah?”

“Ehm..” Gwiboon menganggukkan kepalanya penuh peyakinan.

Woohyun menatap mata Gwiboon dalam, membuat yeoja manis itu diam membisu. Baru kali ini Woohyun menatapnya seperti itu. “Baiklah..aku percaya padamu..”

Aku percaya padamu…

Gwiboon terdiam mendengarnya, ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Dia merasa jahat pada Woohyun yang telah percaya sepenuhnya padanya, sedangkan dia sering berbohong, bahkan dia membohongi dirinya sendiri dengan berpura-pura menjadi namja manis dan ramah agar Woohyun menyukainya.

Maafkan aku Woohyun oppa…

“Kalau terjadi sesuatu padamu, kau harus bilang kepadaku. Aku akan berusaha menjagamu.” Woohyun mengusap kepala Gwiboon penuh sayang.

“Eum…gomawo Woohyun oppa.” Gwiboon tersenyum manis ke arah Woohyun yang juga tersenyum kepadanya sambil mengacak-acak rambut bergelombang milik Gwiboon.

***

DEG

Gwiboon terperanjat saat melihat isi lokernya. Semua buku di dalamnya sudah tersobek tidak beraturan dan penuh dengan surat-surat ancaman untuknya. Dengan tangan bergetar Gwiboon mengambil selembar kertas berwarna putih dengan tulisan berwarna merah.

JAUHI JINKI!! DASAR YEOJA PENGGODA!!!

Gwiboon meremas surat itu dan menutup lokernya dengan kuat penuh amarah. “Brengsek!” Desisnya sambil berjalan tenang menuju kelasnya.

“Aku dengar dia menggoda Jinki karena Jinki orang kaya..bahkan lebih kaya dari Woohyun”

“Dia hanya namja miskin kan? Bagaimana mungkin Jinki menyukainya?”

“Pasti dia bersikap sok manis di depan Jinki…”

“Dia memakai wajah manisnya untuk menggoda pria-pria..”

Bisikan-bisikan itu tak berhenti singgah di telinga Gwiboon saat dia berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Dia hanya berusaha ‘menutup telinganya’ dan berpura-pura tidak mendengarnya walau sebenarnya dia ingin sekali memukul wajah para yeoja bermulut usil itu. Hingga akhirnya langkahnya terhenti karena beberapa yeoja mencegat jalannya.

“Maaf, kalian ada perlu apa denganku?” Gwiboon berusaha bersikap ramah kepada mereka.

“Cih..bersikap sok manis di hadapan kami, menjijikan!”

“Berani sekali namja miskin sepertimu menyentuh Jinki kami!”

“Bahkan kau terlalu bagus untuk menyentuh sepatu kami!”

Oh hebat sekali namja bernama Lee Jinki itu. Baru saja seminggu dia bersekolah disini dia sudah memiliki banyak fans fanatik seperti ini. Hanya sekumpulan yeoja bodoh yang menganggap namja brengsek seperti Lee Jinki itu bagaikan pangeran. Ck..bahkan dia lebih cocok menjadi seorang penyihir berotak pervert!

“Aku tidak punya urusan dengan kalian..aarrggghh…” Gwiboon meringis kesakitan saat salah satu dari mereka menarik rambutnya.

“Kami bilang jauhi Jinki!!!!”

“Aku tidak mendekatinya bahkan aku tidak tertarik padanya…” Jawab Gwiboon sambil menatap mereka tajam. Mungkin beberapa saat lagi dia tidak dapat menahan amarah yang sudah bergemuruh di dadanya.

“Cih..berani sekali kau bilang seperti itu, dasar namja penggoda!”

PLAK

Gwiboon tertegun saat merasakan panas di pipi kirinya akibat tamparan salah satu dari mereka.

“Apa yang kalian lakukan?” Woohyun datang dengan wajahnya yang sangat panik. Dia mendorong yeoja yang sedang menarik rambut Gwiboon. Sedikit terhenyak saat melihat pipi Gwiboon yang memerah, tentu saja dia yakin kalau yeoja-yeoja itu baru saja menampar pipi mulus Gwiboon. Woohyun menarik Gwiboon agar berdiri di belakang tubuhnya.

“Memberi pelajaran dengan yeoja penggoda itu!”

“Gwiboon bukan namja penggoda! Dan aku ingatkan, jangan pernah mengganggunya lagi karena aku akan melindunginya!!”

Gwiboon menggigit bibirnya mendengar perkataan Woohyun yang ia rasa hanya akan menambah masalah untuknya. Ok, dia senang Woohyun membelanya seperti ini, tapi mungkin saja setelah ini bukan hanya fans Jinki yang menyerangnya, melainkan fans Woohyun juga!

.
.
.

Dan benar saja apa yang Gwiboon pikirkan, baru saja dia meninggalkan kelas untuk pergi ke ruang osis, kursi miliknya sudah menghilang dan banyak sampah berserakan di atas mejanya. Mungkinkah mereka berpikir itu adalah tempat pembuangan sampah?

“Sabar Kim Gwiboon…kau pasti bisa…” Gumamnya sambil mengambil kotak sampah untuk membuang sampah-sampah yang memenuhi meja nya.

.
.
.

“Sepertinya kau sibuk sekali hari ini?”

Gwiboon menghela nafas panjang saat mendengar suara yang sangat dia kenal beberapa hari ini, dia menghentikan aktivitas membuang sampah-sampah itu di tempat pembuangan sampah di belakang sekolah.

“Dan ini semua karena ulahmu Lee Jinki!” Gwiboon membuang sampah dengan buru-buru dan berjalan meninggalkan Jinki. Dia tidak ingin dekat-dekat dengan Jinki lagi, dia sudah muak dengan para fans Jinki yang membuat hari-harinya di sekolah menjadi suram.

“Ck..aku juga tidak menyangka kalau aku memiliki banyak fans seperti itu, ternyata pesonaku memang tidak bisa ditutupi.” Oceh Jinki tetap mengikuti Gwiboon. “Lagipula kalau kau mengeluarkan sifat aslimu pasti kau bisa melawan mereka.”

Gwiboon menghentikan langkahnya. “Kenapa sih kau selalu mengganggu? Kau tau, kau itu menyebalkan! Selalu berbuat seenaknya hanya karena kau anak orang kaya dan pemilik sekolah, hah?”

Jinki mengepalkan tangannya, menahan amarahnya. Dia tidak suka bila statusnya sebagai anak orang kaya atau pemilik sekolah ini diungkit-ungkit. Dia hanya ingin orang-orang menilainya tanpa status yang membuatnya muak itu.

“Jadi karena aku orang kaya kau tidak suka padaku? Karena aku anak pemilik sekolah ini kau terus menghindariku?” Jinki mencengkram lengan Gwiboon kuat, membuat yeoja itu meringis kesakitan. Jinki benar-benar terlihat menyeramkan dengan matanya yang menatap Gwiboon tajam.

“Jin…hmmfftt…”

Jinki membungkap mulut Gwiboon dengan bibir tebalnya. Melumatnya dengan sedikit kasar, tanpa memperdulikan Gwiboon yang terus memberontak mendorong tubuh Jinki yang tak bergeming sedikitpun.

“Ngg…” Desahan Gwiboon lolos begitu saja saat Jinki menggigit bibir bawahnya, dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Gwiboon. Jinki menarik tengkuk mulus Gwiboon untuk memperdalam ciumannya. Membiarkan lidahnya bergulat dengan lidah milik Gwiboon, sampai air liur mereka yang saling bertukar.

PLAK

Gwiboon berhasil mendorong tubuh Jinki dan menampar pipi kirinya cukup keras.

“Ya!” Jinki kaget karena Gwiboon berani menamparnya seperti ini. Baru kali ini dia merasa ditolak, benar-benar ditolak seolah-olah dirinya sangat menjijikan.

DEG

Jinki terdiam saat melihat mata Gwiboon yang terlihat berkaca-kaca. Baru kali ini dia melihat Gwiboon yang kuat terlihat benar-benar rapuh bagaikan sebuah gelembung yang bila disentuh akan pecah dan menghilang.

“Aku tau kalau kau memang benar-benar brengsek!” Gwiboon mengusap kasar air mata yang mulai mengalir di pipi tirusnya. “Bahkan Woohyun oppa saja belum pernah menciumku..” Rancaunya tak jelas.

“Jangan pernah menemuiku lagi! Jangan bilang suka padaku kalau kau berbohong! Aku membencimu Lee Jinki!!!”

Gwiboon berlari meninggalkan Jinki yang masih mematung di tempatnya. Dia memegang pipi kirinya yang masih terasa panas karena tamparan Gwiboon. “Bahkan ini adalah pertama kalinya kau menyentuhku terlebih dulu…”

***

Gwiboon menghentikan langkahnya saat melihat Jinki berdiri tepat di depan gerbang belakang sekolah. Kenapa dia tau kalau Gwiboon selalu lewat gerbang belakang untuk masuk ke sekolah sejak para fans Jinki selalu menghadang jalannya, dan berusaha membuat masalah dengannya?

Gwiboon mengeratkan pegangannya di tali tas pink miliknya dan kembali melanjutkan langkahnya melewati namja tampan itu seolah-olah dia tidak melihatnya.

“Maaf…”

DEG

Gwiboon kembali menghentikan langkahnya saat mendengar Jinki mengucapkan kata maaf.

“Soal kemarin, aku benar-benar minta maaf…”

Gwiboon membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jinki yang menundukkan kepalanya, sepertinya dia menutupi wajahnya yang sedikit memerah.

“Kenapa kau menunduk seperti itu?”

“Aish..ini adalah pertama kalinya aku meminta maaf dalam hidupku. Terserah kau mau maafkan atau tidak, yang penting aku sudah minta maaf.” Ujar Jinki sambil menggaruk kepalanya frustasi.

Gwiboon tersenyum kecil melihatnya, entah mengapa dia merasa Jinki benar-benar serius meminta maaf kepadanya. “Apa boleh buat, lagipula kau sudah meminta maaf.”

“Menyebalkan!”

Gwiboon semakin terkekeh melihat Jinki yang lagi-lagi menundukkan kepalanya karena malu. Dia rasa ini memang benar pertama kalinya seorang Lee Jinki meminta maaf.

“Kalau ada yang mengganggumu bilang saja padaku.” Ujar Jinki sok pahlawan.

“Cih..aku tidak butuh bantuanmu!”

“Aku tau kau adalah yeoja yang kuat. Jadi karena itu aku tidak ingin melihatmu menangis. Tapi saat kau merasa lemah dan sedih, panggilah aku. Sampai Gwiboon yang kuat kembali aku akan menjadi sandaranmu.”

DEG

Kenapa jantungku berdebar seperti ini mendengarnya?

“Ini semuakan karenamu Lee Jinki!” Gwiboon berusaha menutupi rasa gugupnya.

“Iya, aku tau ini karenaku. Makanya aku akan mengawasimu, aku akan berusaha melindungimu…”

Kata-kata ini…

Kata-kata yang paling ingin aku dengar…

Kenapa harus dia yang mengucapkannya?

“Dan bayarannya mudah, setiap kali kau meminta bantuanku kau hanya tinggal memberikanku sebuah ciuman. Bagaimana?” Goda Jinki.

Oh harusnya tadi Gwiboon tak perlu merasa terpesona oleh kata-kata namja mesum ini. “Dasar pervert!!!”

Jinki tertawa mendengarnya. Dia mencubit pipi Gwiboon gemas. “Tetaplah seperti ini.. Lebih baik hanya aku saja yang tau tentang dirimu yang sebenarnya…”

DEG

Jinki mengusap kepala Gwiboon lembut. “Cepatlah menjadi lemah, karena aku tidak sabar merasakan ciumanmu.” Kekehnya.

“Aku tidak akan pernah meminta bantuanmu namja pervert!! TI-DAK A-KAN PER-NAH!!”

Berhentilah bilang suka bila kau berbohong…

Karena aku hanya butuh sebuah cinta yang tulus…

***
Semakin sering Gwiboon terlihat bersama Jinki, semakin banyak orang yang membencinya. Bahkan murid-murid yang lain semakin menjauhinya. Ck..itu bukan masalah untuknya, karena memang beginilah seorang Kim Gwiboon. Selalu sendirian…

Menatap gumpalan awan putih yang terlihat indah di langit yang sangat cerah. Membiarkan angin menerpa wajahnya. Selalu seperti ini, makan siang di atap sekolah. Sendirian. Hanya ditemani kotak bekal yang selalu dibawanya ke sekolah.

“Kau benar-benar tidak punya teman ya?” Dia lagi. Orang yang paling malas ditemui oleh Gwiboon. Tentu saja itu adalah Lee Jinki. Sekarang Jinki semakin membuatnya pusing karena selalu mengikutinya kemana pun.

“Tinggalkan aku sendirian!” Gwiboon malas meladeni Jinki. “Lagipula aku tidak butuh teman. Asalkan ada Woohyun oppa disampingku, itu sudah cukup untukku.”

Jinki hanya mencibir mendengar perkataan Gwiboon. Tanpa memperdulikan perkataan Gwiboon yang bilang ingin sendirian, Jinki duduk di samping yeoja manis itu. Mengambil sepotong telur dadar gulung yang berada di kotak bekal milik Gwiboon dan memakannya walau Gwiboon protes setelahnya.

“Aku perhatikan kau juga tidak pernah mengobrol dengan siapapun. Ck..kau juga tidak punya teman kan?” Gwiboon menatap Jinki dengan pandangan prihatin.

“Jangan menatapku seperti itu! Aku juga tidak butuh teman! Asal ada kau itu sudah cukup, dan kau juga hanya butuh aku!”

Gwiboon menatap mata bulan sabit milik Jinki yang memancarkan sebuah keseriusan. Dan kenapa hatinya bergetar melihatnya?

Kau hanya butuh aku…

“Sudah aku katakan aku hanya butuh Woohyun oppa. Sudahlah, aku harus kembali ke kelas.” Gwiboon membereskan kotak bekal makan siangnya dan bangkit dari duduknya membersihkan roknya yang terkena debu.

“Mulai hari ini aku jadi temanmu satu-satunya, dan kau jadi temanku satu-satunya.”

Eh? Teman?
Baru kali ini ada seseorang yang memintanya berteman. Beberapa tahun ini hanya ada Woohyun di otaknya, dia sampai lupa bagaimana rasanya memiliki seorang teman.

Hangat…
Sebuah perasaan yang nyaman dan membuat dirinya ingin tersenyum.

***

Entah apa yang sedang dipikirkan yeoja manis bernama Gwiboon saat ini. Mungkin saja dia sedang kerasukan sebuah roh penasaran, oh ok mungkin itu terlalu berlebihan. Tapi lihatlah apa yang sedang dia lakukan sekarang. Memperhatikan seorang namja bermata bulan sabit yang sedang bermain basket sendirian! Memperhatikan seorang Lee Jinki dari balkon kelasnya di lantai dua!

Sedikit terpesona melihat Jinki dengan rambut coklat gelapnya yang sesekali terbang terkena angin, dan keringat yang mengalir di wajahnya membuatnya terlihat err..semakin tampan. Oh ingat, hanya sedikit terpesona! Sedikiiiit!

Gwiboon tersenyum kecil melihat Jinki yang melompat senang karena bola yang dia lempar masuk ke dalam ring dengan sempurna. Ck..ternyata seorang Lee Jinki bisa juga terlihat kekanak-kanakan seperti itu.

“JINKIIIIIIIII~”

Sebuah suara berat milik seorang namja tiba-tiba saja menghentikan lamunan Gwiboon tentang Jinki. Seorang namja bertubuh kekar berlari menuju lapangan dan memeluk Jinki erat.

Siapa dia?

Terlihat Jinki yang berusaha melepaskan pelukan namja kekar itu, sepertinya dia sedikit risih dengan perlakuan namja itu.

“Aaa..temanku, aku merindukanmu!!”

Teman? Dia teman Jinki? Bukankah Jinki bilang hanya Gwiboon teman satu-satunya?

Aku juga tidak butuh teman! Asal ada kau itu sudah cukup, dan kau juga hanya butuh aku!

Gwiboon memegang dadanya yang bergemuruh. Perasaan apa ini? Kenapa dia merasa sesuatu yang mengganjal? Sesuatu yang ingin membuatnya marah..

Kenapa aku semakin merasa kesepian?

“Apa yang kau lakukan disini Kim Jonghyun?” Jinki menatap sebal ke arah namja kekar bernama Jonghyun itu. Sedangkan orang yang ditatap seperti itu hanya tertawa cengengesan membuat Jinki semakin kesal.

“Aku dikeluarkan dari sekolah karena terlalu sering membolos, dan aku ingat sekolah ini adalah milik Ayah mu. Jadi aku meminta Ayah ku untuk memindahkan aku ke sini. Aaaaa..aku senang sekali bisa satu sekolah denganmu lagi!” Jonghyun kembali merangkul pundak Jinki, walau terlihat agak susah karena tubuhnya yang sedikit lebih pendek dari Jinki.

Kenapa dia selalu berbohong?

Gwiboon tertegun saat melihat Jinki melambaikan tangan ke arahnya, sepertinya dia baru melihat keberadaan Gwiboon yang sedari tadi memperhatikannya.

Senyum itu…ternyata bukan hanya untukku…

Tanpa menanggapi sapaan Jinki, yeoja manis itu memalingkan wajahnya dan berjalan menuju ruang osis. Dia juga tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan, entah kenapa dia jadi kesal karena keberadaan Jonghyun.

Lee Jinki aku membencimu!

“Gwiboon!!!” Terdengar suara Jinki yang memanggilnya dari belakang, dan suara derap langkah Jinki yang semakin mendekat. Tanpa memperdulikannya, Gwiboon tetap berjalan santai seolah-olah tidak mendengar panggilan dari Jinki.

Sret~

Langkahnya terhenti saat seseorang menarik tangannya untuk menghentikan langkahnya, tentu saja orang itu adalah Lee Jinki.

“Kenapa kau mengabaikan sapaanku tadi?”

“Apa itu penting? Lebih baik kau bermain saja dengan temanmu itu!”

Gwiboon kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Jinki yang masih berdiri di tempatnya sambil mencerna perkataan Gwiboon sampai akhirnya sebuah senyum mengembang di wajahnya. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Gwiboon..

Greb~

Gwiboon membelalakan matanya saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Terasa nafas hangat yang menderu di permukaan tengkuknya.

“Kau tidak suka melihatku berteman dengan orang lain?”

Tidak suka? Benarkah itu yang Gwiboon rasakan?
Bukan tidak suka, tapi lebih tepat bila disebut dengan tidak rela…

“Kalau begitu lebih baik aku tidak bicara lagi dengan siapapun juga. Aku tidak butuh orang lain.. Kalau itu maumu, maka aku akan jadi milikmu seorang saja..”

DEG!

“Karena itu kau jangan berpisah lagi dariku, jangan menyukai orang lain selain aku…” Jinki mengeratkan pelukannya di pinggang ramping milik Gwiboon. Semakin menyusupkan wajahnya di tengkuk yeoja manis itu, menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh Gwiboon, yeoja yang membuatnya tergila-gila.

Aku membencinya…

Tapi kenapa suara ini..

Lengan ini…

Seperti menjeratku…

Aku tidak bisa melawannya…

“Jangan seenaknya menyentuhku! Yang boleh menyentuhku hanya Woohyun oppa!” Seolah tersadar dari buaian yang dilakukan Jinki, yeoja manis itu berusaha melepasakan pelukan Jinki di tubuhnya.

“Dia tidak akan menyentuhmu.. Karena itu berhentilah memikirkannya. Dia tidak cocok untukmu..” Tanpa berniat melepaskan pelukannya, namja tampan itu semakin mengeratkan pelukannya walau Gwiboon mulai meronta. Menjatuhkan bibir tebalnya di permukaan mulus tengkuk Gwiboon, sedikit menyesapnya. Dia sungguh ingin memiliki tubuh Gwiboon seutuhnya..

“Lepaskan aku!!” Gwiboon menghempaskan tangan Jinki dari tubuhnya. Dia menatap Jinki tajam. “Apa yang kau tau? Aku menyukai Woohyun oppa! Tujuan hidupku adalah menjadi yeoja yang tepat untuknya!”

“Yang cocok denganmu adalah aku! Jadi jangan bermimpi yang tidak mungkin!”

Mereka berdua saling berpandangan dengan mata penuh amarah. Saling mengeluarkan ego masing-masing. Sampai akhirnya Gwiboon membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Jinki yang masih menatapnya kesal.

“Ck..seorang Lee Jinki ditolak oleh seorang yeoja?”

Jinki mendelikkan matanya ke arah Jonghyun yang sedang menatapnya meremehkan.

“Tutup mulutmu Kim Jonghyun atau aku akan membunuhmu!!” Ancam Jinki yang semakin membuat Jonghyun tertertawa terbahak-bahak.

***

“Gwiboon-a, kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu? Apa ada yang mengganggumu lagi?” Lagi-lagi Woohyun mencemaskannya. Hah..salah satu sifat Woohyun yang sangat disukainya. Selalu perhatian, dan membuatnya merasa sangat dihargai.

Gwiboon hanya menggelengkan kepalanya kepada Woohyun. “Aku baik-baik saja oppa.”

“Benarkah?” Woohyun masih tidak percaya dengan jawaban Gwiboon.

“Aku akan bilang padamu bila sesuatu terjadi kepadaku, bukankah sejak dulu seperti itu?” Gwiboon tersenyum lebut dan menatap Woohyun berusaha membuatnya percaya.

DEG

Jantung Gwiboon serasa terhenti berdetak saat Woohyun tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya seperti ini. “O..oppa…”

“Ah, maaf. Aku terlalu mencemaskanmu.” Woohyun langsung melepaskan pelukannya, terlihat sangat gugup.

Gwiboon tersenyum melihat sifat Woohyun yang terlalu polos.

Senyum itu…

Wajah itu…

Hanya dia yang terlihat selama sepuluh tahun ini…

Namun sekarang ada bayangan lain yang muncul di mataku…

Dan di hatiku…

***

“Jinki-sshi ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Jinki menatap namja tampan di hadapannya dengan malas. “Ada apa ketua osis yang penuh kharisma ini datang mencariku?” Ucapnya sedikit meremehkan saat menekankan kata ‘ketua osis yang penuh kharisma’.

“Sebagai ketua osis di sini, aku hanya mengingatkanmu untuk berhenti membuat keributan. Karena perbuatanmu, akhir-akhir ini banyak membuat orang lain dirugikan, contohnya adalah Gwiboon..”

Jinki menarik kerah seragam Woohyun. “Aku ingin mendengar kau mengatakannya sebagai seorang lelaki sejati! Bukan dengan jabatan ketua osis mu itu bodoh!!”

Woohyun terdiam. Perkataan Jinki terngiang di otaknya. Lelaki sejati?

Aku terbiasa bersamanya…

Melewati hari dengannya…

Berbagi tawa di depannya…

Dan aku tak menyadari suatu hal…

Tentang rasa ini…

“Woohyun oppa…apa yang kau lakuakn disini? Kau tidak apa-apa kan?” Gwiboon datang ke taman belakang saat Dongwoon bilang Woohyun pergi mencari Jinki. Dia berlari seperti orang kesetanan, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Woohyun hanya karena dirinya.

Jinki tertegun saat Gwiboon datang mencemaskan Woohyun. “Cih..bahkan dengan cepat kau datang menghampiri namja bodoh ini.”

Gwiboon menatap Jinki. “Sebenarnya apa sih mau mu?”

“Apa masih belum jelas juga? Alasanku mendekatimu adalah…”

SRET

“Hmmfftt…”

Woohyun terbelalak melihat pemandangan di depannya. Jinki menarik tubuh Gwiboon dan mencium bibirnya telak.

“Aku menyukai bahkan aku mencintainya..” Ucap Jinki tegas saat dia melepaskan ciumannya, membuat Woohyun dan Gwiboon terdiam mematung, masih terlalu shock dengan perbuatan yang Jinki lakukan.

“Karena aku jatuh cinta padanya, aku ingin membuatnya jatuh cinta padaku juga!”

DEG

Hentikan…

Aku tidak mau mendengarnya…

Aku takut perasaanku bisa berubah…

Aku takut…

-To be continued-

Ini udah lebih panjang belum sih?
Ya udahlah ya..yg penting aku udah update nih FF #plak

RCL jangan lupaa yaaa..
Pis love n’ gawl! :*

[FF / SG / JINBOON / LOVEY DOVEY / PART 1]

1

Title : Lovey Dovey
Length : 1 of ?
Genre : SG, Romance
Rating : PG 17
Author : @realala92
Main Cast : Lee Jinki, Kim Gwiboon, Nam Woohyun

NB : ini cerita terinspirasi dari komik Jepang dengan judul yang sama . Happy reading~ ^^

***
Aku tidak mengerti apapun di dunia ini…

Aku hanya berjalan mengikuti perasaanku…

Dan aku hanya tau bagaimana cara agar kau tertarik kepadaku…

.
.

“Woohyun oppa, apa kau sudah makan siang?”

“Woohyun oppa, apa nanti siang kau ada acara?”

“Woohyun oppa~ bagaimana rasa coklat yang aku berikan tadi pagi?”

Dan masih banyak pertanyaan lain yang terucap dari mulut para yeoja yang sedang berkumpul di depan ruang kelas 3-1, dan tentu saja mereka sedang melakukan sesi wawancara dengan seorang namja tampan yang cukup populer di sekolah terlebih lagi dengan jabatan ketua osis yang dipegangnya, Nam Woohyun. Namja yang memiliki wajah yang cukup untuk dibilang tampan, senyum yang selalu menghiasi wajahnya, sifatnya yang ramah dan sopan, memiliki otak diatas rata-rata, dan tentu saja keuangan keluarganya tidak bisa diabaikan. Dia anak tunggal dari pemilik perusahaan dagang Nam Corp yang cukup sukses di Korea Selatan bahkan di Jepang. Jadi yeoja gila mana yang mampu menolak pesonanya?

Termasuk salah seorang yeoja yang sedang menatap Woohyun saat ini, berbeda dengan yeoja lainnya, yeoja manis dengan mata indah bersudut tajam itu hanya berdiri tak jauh dari gerombolan itu tanpa berminat berkumpul dengan yeoja-yeoja centil yang sedang menggoda Woohyun.

Tangannya terkepal kesal saat salah satu yeoja centil itu mencolek pipi Woohyun. “Ini tidak bisa dibiarkan! Hanya aku yang boleh menyentuh Woohyun oppa!” Batinnya. Tanpa aba-aba dia langsung berjalan menerobos masuk dalam lingkaran yeoja mengerikan itu.

“Woohyun oppa, kita masih ada rapat osis setelah ini.”

Yeoja itu tersenyum semanis mungkin di hadapan Woohyun yang saat ini memandangnya dengan penuh rasa terima kasih telah menyelamatkannya dari para yeoja itu.

“Ah kau benar Gwiboon-a.. Ayo kita pergi.”

Yeoja manis bernama Gwiboon itu tersenyum puas saat Woohyun akhirnya pergi menjauh dari para yeoja centil itu dan kini namja tampan itu berjalan di sampingnya menuju ruang osis, sepertinya kata-kata ‘di sampingnya’ perlu diperjelas. Ya, hanya di sampingnya! Hanya mereka berdua, dia dan Woohyun tak ada yang lain.

“Cih..yeoja sok manis itu lagi!”

“Dia selalu saja mengganggu!”

“Hanya yeoja miskin tak tau malu yang dari dulu mengincar Woohyun oppa.”

Sabar Kim Gwiboon… Sabaaaaar… Gwiboon berusaha menahan amarah yang meluap di dalam hatinya. “Yeoja manis tidak boleh marah! Yeoja manis adalah yeoja yang disukai Woohyun oppa!” Berusaha mengingatkan salah satu motto hidup yang selalu ada di otaknya itu.

“Kau tidak apa-apa?” Woohyun menatap Gwiboon dengan cemas. Dia tau ucapan yeoja-yeoja itu tentu saja sangat tidak enak didengar dan menyakitkan untuk Gwiboon.

Gwiboon menarik kedua sudut bibirnya lebar, memberikan senyuman terbaiknya untuk Woohyun. “Aku tidak apa-apa oppa.”

Kim Gwiboon.. Yeoja cantik bersudut mata tajam, satu tingkat dibawah Woohyun, dan memiliki wawasan luas sehingga dia menjadi wakil ketua osis. Ok, alasan pertama dia berminat menjadi wakil ketua osis adalah agar bisa lebih dekat dengan Woohyun yang sudah sepuluh tahun ini disukainya. Sepuluh tahun! Bukan waktu yang singkat bukan?

Motto hidupnya adalah “Yeoja manis adalah yeoja yang disukai Woohyun!” Dan cita-citanya adalah “Menjadi yeoja manis yang disukai Woohyun”
Semua pasti menganggap dia gila, tapi itulah kenyataannya. Dia memang benar-benar tergila-gila dengan Woohyun sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Baginya Woohyun bagaikan seorang pangeran di negeri dongeng, dan dia ingin menjadi putrinya.

Awalnya dia adalah yeoja yang cuek dan sedikit galak, namun itu semua berubah saat Woohyun bilang “Tipe idealku adalah seorang yeoja yang manis dan ramah.” Gwiboon langsung meninggalkan sifat aslinya yang cuek dan berubah 180 derajat menjadi yeoja manis dengan tujuan mendapatkan hati Woohyun.

“Oppa, sebenarnya hari ini tidak ada rapat osis.” Gwiboon menundukkan kepalanya, dia tidak tau harus berbuat apa. Bagaimana kalau Woohyun tidak menyukainya karena berbohong? Tadi ide itu tiba-tiba saja tercetus di otaknya karena rasa cemburu melihat seorang yeoja menyentuh Woohyun-nya. Nya? Berarti kepemilikan bukan? Baiklah mungkin saat ini Woohyun bukan miliknya, tapi suatu saat nanti dia yakin akan mendapatkan hati Woohyun!

DEG

Jantung Gwiboon terasa berhenti berdetak saat merasakan tangan Woohyun yang hangat mengusap kepalanya pelan. “Aku tau kau hanya ingin membantuku terbebas dari yeoja-yeoja itu. Gomawo..” Ucapnya sambil tersenyum.

Oh tuhaaaan…senyumannya membuatku ingin pingsan!

“Eumm.. Oppa..apa setelah ini kau masih ada urusan?” Gwiboon bertanya sambil menggigit bibirnya harap-harap cemas menunggu jawaban Woohyun. Dia ingin mengajak Woohyun pergi ke kedai es krim tak jauh dari sekolah. Sudah lama mereka berdua tidak pergi berdua karena kesibukan Woohyun sebagai ketua osis dan murid tingkat akhir di sekolah.

Woohyun terlihat berpikir, bila sedang serius seperti ini dia terlihat semakin tampan. “Sepertinya tidak ada.. Memangnya ada apa? Kau mau makan es krim?” Tebaknya.

Gwiboon tersenyum lebar mendengar tebakan Woohyun, dia memang selalu tau apa yang Gwiboon inginkan. Benar-benar tipe kekasih idaman bagi Gwiboon.

“Memangnya kau sudah sembuh?” Tanya Woohyun mencemaskan keadaan Gwiboon karena seminggu kemarin dia tidak masuk sekolah karena demam yang cukup tinggi, mungkin karena kegiatan osis yang cukup menyita waktu dan membuat waktu istirahat berkurang.

“Aku sudah sembuh kok!”

“Baiklah..kita makan es krim sekarang.”

Kalau berteriak sambil melompat-lompat terlihat wajar, maka mungkin saat ini Gwiboon akan melakukan hal itu. Dia selalu menganggap pergi berdua dengan Woohyun sama saja dengan kencan.

“Woohyun-a…!!”

Woohyun dan Gwiboon mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang namja tinggi yang sedang berlari ke arah mereka sambil memanggil nama Woohyun.
“Ada apa Dongwoon-a?” Tanya Woohyun kepada Dongwoon, salah satu pengurus osis juga yang sekarang berdiri di hadapan Woohyun dengan nafas tersenggal-senggal.

“Lee Jinki..dia membuat keributan lagi! Kali ini dia memaksa masuk ke ruang musik dengan memecahkan kaca jendelanya.” Jelas namja tinggi berwajah arabian itu. Setelah mendengar penjelasan Dongwoon, Woohyun langsung berlari ke arah ruang musik tempat kejadian itu terjadi.

Dongwoon berusaha mengejar Woohyun namun tangannya tertahan sesuatu, yaitu tangan Gwiboon yang menariknya. Mau tidak mau dia menghentikan langkahnya dan menatap yeoja manis itu bingung.

“Siapa Lee Jinki?”

Dongwoon menghilangkan ekspresi bingungnya setelah mendengar pertanyaan Gwiboon. “Banyak yang terjadi selama seminggu kau tidak masuk. Lee Jinki adalah anak dari Tuan Lee pemilik sekolah ini dan selama seminggu ini pula dia selalu membuat keributan di sekolah.” Dongwoon menghela nafas panjang kemudian menggaruk kepalanya kesal. “Aish..dia membuat kita kerepotan dan membuat tugas kita semakin banyak!”

Lee Jinki… Awas kau!! Kau telah merusak acara kencan ku dengan Woohyun oppa!!

.
.
.

“Ish…kemana sih perginya Woohyun oppa? Kenapa sekolah ini besar sekali sih? Aish..ini semua karena ulah Lee Jinki itu, dia menghancurkan acara kencanku dengan Woohyun oppa! Menyebalkan!!” Tanpa sadar Gwiboon menggumam sendiri karena rasa kesal yang dirasakannya. Dia sudah hampir berkeliling semua ruang seni namun masih tak menemukan batang hidung Woohyun.

“Hey…yeoja aneh, kenapa kau bicara sendiri seperti itu?”

Gwiboon menghentikan langkahnya menatap seorang namja putih bermata sipit dan berpipi chubby yang sedang berdiri sambil menyenderkan punggungnya di dinding dekat pintu perpustakaan yang sudah sepi. Bila dilihat dari gaya berpakaiannya, tentu saja namja itu tidak bisa disebut sebagai murid baik-baik. Baju seragam dibiarkan keluar begitu saja, kancing jas seragam yang dibiarkan terbuka, kancing kemeja yang terlihat sengaja dibuka hingga kancing kedua memperlihatkan kaos putih yang bersembunyi dibaliknya, serta dasi yang terlihat tergantung asal di lehernya. Benar-benar terlihat urakan, namun tak bisa dipungkiri kalau namja itu terlihat err..tampan?

Gwiboon tersadar dari lamunannya dan teringat apa tujuannya dia berada di sini. “Apa kau melihat Nam Woohyun? Aku dengar dia sedang mencari namja bernama Lee Jinki, apa kau melihat mereka?”

“Oh..Lee Jinki..siswa baru anak pemilik sekolah ini yang selalu membuat masalah dan keributan di sekolah ini..” Gumam namja itu sambil berjalan mendekati Gwiboon.

“Iya..aku dengar dia selalu membuat masalah, dia menyebalkan selalu membuat Woohyun oppa kesulitan…”

SRET

BRAK

“Ya!! Apa yang kau lakukan?!” Gwiboon kaget karena namja itu langsung menarik tangannya hingga tubuhnya terhempas ke dinding dan namja itu menghimpitnya dengan kedua tangannya mengurung tubuh kurus Gwiboon.

“Apa yang kulakukan? Aku akan menghukummu karena perkataanmu barusan.. Aku tidak akan membiarkan orang lain berbicara seperti itu tentang diriku, hanya aku yang boleh bicara seperti itu..”

Diriku? Jadi…namja ini adalah Lee Jinki?

“Eungh…” Gwiboon tersentak karena tiba-tiba saja Jinki menggigit telinganya dan mulai menjilat leher putih miliknya, bahkan dia sedikit menghisapnya berusaha membuat tanda kemerahan di sana.

Ini menjijikan!!

Gwiboon berusaha mendorong tubuh tegap Jinki yang terus menghimpitnya. Berharap Jinki akan melepaskannya.

“Lepaskan! Kau taukan ini dilarang di sekolah?” Ok, pertanyaan itu membuat Jinki menghentikan aktivitasnya pada leher putih Gwiboon.

Jinki menatap Gwiboon tajam dengan mengeluarkan sebuah seringai di wajahnya. “Apa aku terlihat seperti murid yang taat pada peraturan sekolah?”

Tentu saja tidak!

Dan tubuh yeoja manis itu semakin menegang saat merasakan tangan halus Jinki menyentuh pahanya, sedikit merabanya semakin ke atas. Ini tidak boleh dibiarkan!

BUGH

Gwiboon menghempaskan tangannya yang terkepal berusaha memukul wajah tampan milik Jinki, namun dengan sigap Jinki menghindarkan wajahnya dari pukulan Gwiboon. Ekspresi kaget tercetak pada wajah Jinki, dia tidak menyangka Gwiboon akan melawannya seperti ini.

“Jangan main-main padaku! Aku bukan yeoja lemah seperti yang kau pikirkan dan aku tidak takut padamu! Brengsek!” Gwiboon menatap Jinki tajam, amarahnya benar-benar meluap. Amarah yang tak pernah dia tunjukkan selama sepuluh tahun ini, selama dia memutuskan untuk membuat Woohyun tertarik padanya dengan berusaha menjadi yeoja manis dan lemah lembut.

Jinki tersenyum kecil melihatnya, err..bahkan itu lebih pantas disebut sebuah seringai daripada sebuah senyuman.

“Kenapa kau malah tersenyum?” Gwiboon semakin geram melihat Jinki yang seolah-olah meremehkannya.

“Kau menarik.. Siapa namamu?”

“Apa? Cih..aku tidak punya alasan untuk memberitahukan namaku kepadamu!”

“Gwiboon-a…apa yang kau lakukan disini?” Woohyun datang dengan wajah khawatir karena melihat namja yang sedang bicara dengan yeoja manis itu. Siapa yang tidak khawatir bila sahabatmu sedang bicara dengan namja paling bermasalah di sekolah?

“Aku mencarimu oppa…” Gwiboon tersenyum manis menatap Woohyun.

“Dan apa yang kau lakukan dengan Jinki?”

“Tidak ada, kami hanya kebetulan bertemu dan aku bertanya apa dia melihatmu atau tidak.” Bohong Gwiboon, dia tidak mau Woohyun sampai tau kalau namja brengsek itu berusaha melecehkannya.

“Kau punya kepribadian ganda Gwiboon? Namamu Gwiboon kan?” Celetuk Jinki mengingat tadi Woohyun memanggil yeoja manis itu dengan nama Gwiboon. Tubuh Gwiboon menegang mendengar pertanyaan Jinki. Tidak mungkin usahanya menutupi jati dirinya selama sepuluh tahun ini berakhir begitu saja dalam hitungan detik! Bagaimana kalau Woohyun sampai tau kalau baru saja dia hampir memukul Jinki? Woohyun tidak akan suka dengan yeoja galak seperti itu!

“Apa maksudmu Jinki-sshi?” Tanya Gwiboon berpura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Jinki, dia menatap Jinki tajam seolah-olah berkata ‘berani kau bilang macam-macam akan kubunuh kau’

“Kau sangat menarik Gwiboon..”

DEG

“Ah, Woohyun oppa sekarang sudah sore. Ayo kita pulang.. Annyeong Jinki-sshi” Gwiboon menarik tangan Woohyun pergi menjauh dari Jinki, dia tidak mau berlama-lama berada di dekat Jinki karena itu akan semakin mengancam dirinya.

.
.
.

“Benar dia tidak melakukan apapun kepadamu?” Woohyun menatap Gwiboon meminta penjelasan, dia benar-benar khawatir Jinki melakukan sesuatu kepada Gwiboon.

“Ne.. Dia tidak melakukan apapun. Kenapa kau cemas seperti itu oppa?” Gwiboon berusaha memancing Woohyun, berharap Woohyun akan mengatakan kalau dia menyukai Gwiboon. Ah..itu adalah mimpi Gwiboon sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Entahlah…aku hanya merasa aneh melihatmu berduaan dengan namja lain untuk pertama kalinya.” Jelas Woohyun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya merasa bingung dengan perasaan yang dia rasakan.

“Woohyun oppa cemburu? AAAA..ini kemajuan!!” Batin Gwiboon bahagia.

“Sudahlah tidak usah kau pikirkan, aku juga bingung dengan apa yang aku rasakan.” Ujar Woohyun polos. Gwiboon hanya tertawa kecil melihat kepolosan Woohyun. Haah..namja ini benar-benar memiliki sifat yang membuat Gwiboon semakin hari semakin menyukainya.

***

Gwiboon berjalan dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, memberikan ucapan selamat pagi kepada semua orang yang ditemuinya. Dia tidak perduli banyak dari orang-orang itu yang menganggapnya sok akrab atau sok mencari perhatian, dia sudah biasa dengan semua itu dan itu tak penting asalkan Woohyun bisa tertarik padanya.

Yeoja manis itu masuk ke dalam kelasnya, namun ada sesuatu yang berbeda. Kenapa semua orang di kelas memperhatikannya? Dan mereka berbisik-bisik sambil melihatnya?

“Hey Kim Gwiboon!!”

Gwiboon mengalihkan pandangannya ke arah namja yang duduk di kursi baris kedua dari depan yang merupakan kursi miliknya.

Namja itu tersenyum lebar melihat Gwiboon yang menatapnya kaget.

“Apa yang kau lakukan di kelasku Lee Jinki-sshi?” Tanya Gwiboon berusaha bersikap ramah ketika dia sudah berdiri tepat di hadapan namja yang tak lain adalah Jinki.

“Ikut denganku!” Jinki menarik tangan Gwiboon untuk berjalan mengikutinya, tak memperdulikan Gwiboon yang memberontak dan orang-orang yang berbisik-bisik membicarakan mereka berdua.

.
.
.

“Lepaskan!! Kau ini..apa sih sebenarnya maumu? Kenapa kau selalu menggangguku? Dan kenapa kau membawaku ke sini? Heh! Jangan harap kau bisa berbuat kurang ajar seperti kemarin!!” Gwiboon menghentakkan tangan Jinki yang menariknya sejak mereka di kelas hingga mereka berdua berada di taman belakang sekolah yang sepi. Gwiboon mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman Jinki yang cukup kuat.

Jinki tertawa melihat Gwiboon yang mengomel sambil menatap matanya tajam.

“Kenapa kau malah tertawa?! Kau itu sudah gila ya?” Gwiboon menggeram kesal.

“Ini sifat aslimu kan?”

Gwiboon terdiam mendengar pertanyaan Jinki. Bagaimana mungkin dia lupa bersikap manis di hadapan namja menyebalkan ini?

“A..apa maksudmu?”

“Kau tidak bisa berpura-pura di depanku. Sebenarnya sifatmu seperti ini kan? Kau hanya berpura-pura menjadi yeoja manis selama ini..”

“Itu memang sifat asliku. A..aku tidak berpura-pura!” Gwiboon mengecilkan volume suaranya. Dia harus bersikap manis!

“Kenapa kau bersikap seperti ini?” Tanya Jinki masih tetap penasaran dengan alasan Gwiboon menutupi jati dirinya seperti ini.

“Itu bukan urusanmu!”

“Itu urusanku karena aku tertarik padamu.”

“Jangan menggangguku lagi!! Aku tidak mau Woohyun oppa salah paham!!” Upss..Gwiboon langsung membungkam mulutnya, ia tidak sadar mengeluarkan kata-kata itu.

Jinki tersenyum sinis dan terlihat sedikit meremehkan. “Jadi karena namja itu kau melakukan ini semua? Apa kau pikir dia akan tertarik karena kau berpura-pura seperti ini?” Gwiboon hanya diam mendengar pertanyaan yang Jinki lontarkan.

GREP

Gwiboon sedikit kaget saat Jinki meraih dagunya dan menatap matanya tajam. “Mana mungkin gadis yang lemah bisa menatapku tajam seperti ini? Jadi berhentilah berpura-pura Kim Gwiboon.”

PLAK

Gwiboon menepis tangan Jinki yang memegang dagunya. “Aku takkan berhenti berpura-pura sampai aku mendapatkan Woohyun oppa!!”

“Kau ini menarik sekali.. Baiklah sudah kuputuskan aku akan menjadikanmu kekasihku, jadi jatuh cintalah padaku!”

***

“Kau ada hubungan apa dengan Lee Jinki?”

Gwiboon berusaha tenang menghadapi yeoja-yeoja menyebalkan seperti yang berada di hadapannya saat ini.

“Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, kemarin dia mencariku karena urusan osis.” Jawab Gwiboon tanpa meninggalkan senyum manisnya.

“Kami tidak suka kau dekat-dekat dengannya!!”

“Dan aku juga tidak ingin dekat-dekat dengannya, aku harap itu adalah pertemuanku yang terakhir dengannya.”

“Tapi….”

“AAAAAAAA…” Gwiboon berteriak kaget karena seseorang menggendong tubuhnya ala bridal style secara tiba-tiba. Dia menggeram kesal ketika melihat wajah orang yang menggendonganya.

Baru saja Gwiboon ingin mengeluarkan omelannya tiba-tiba saja Jinki membisikan sesuatu di telinganya. “Tidak mungkin kan kau mengeluarkan sifat aslimu disini?” Jinki tersenyum penuh kemenangan ketika dilihatnya Gwiboon terdiam mematung.

“Permisi, aku ada urusan dengannya. Jadi kalian bisa bicara lagi nanti dengannya.” Jinki tersenyum manis pada yeoja-yeoja yang sedang mengintrogasi Gwiboon, kemudian dia berjalan dengan tenang sambil menggendong Gwiboon yang masih sedikit memberontak agar Jinki menurunkannya.

.
.
.

Dan disinilah mereka..tempat yang sama seperti kemarin yaitu taman belakang sekolah.

“Kenapa kau berbuat seperti ini lagi? Ini membuat mereka semakin membicarakan yang tidak-tidak tentang kita!!” Gwiboon berteriak kesal. Jinki selalu membuat amarahnya memuncak dan melupakan sikap manisnya.

“Bukannya itu bagus?”

“Tsk..kau menyebalkan! Kalau Woohyun oppa mendengar berita ini bagaimana? Kalau dia cemburu sih bagus, tapi bagaimana kalau dia menjadi membenciku?”

“Cih..namja bodoh itu lagi. Apa sih bagusnya dia?”

BUGH

Gwiboon menendang kaki Jinki.

“Ya! Kenapa kau menendangku??” Jinki meringis kesakitan memegang tulang keringnya yang terasa ngilu karena tendangan Gwiboon yang cukup kuat, sepertinya yeoja manis ini pernah mengikuti latihan khusus bela diri sebelumnya.

“Itu balasan untukmu karena telah mengolok Woohyun oppa! Dia itu tidak bodoh! Woohyun oppa itu sangat baik dan berkarisma.” Mata Gwiboon berbinar-binar karena membayangkan wajah Woohyun yang tampan dengan senyumnya yang lembut penuh pesona.

“Woohyun lagi Woohyun lagi…” Dengus Jinki, dia kesal karena sedari tadi hanya Woohyun yang dibicarakan oleh Gwiboon. “Yeoja sepertimu lebih cocok bila berdampingan denganku!”

“Kau bermimpi!!” Gwiboon menatap Jinki kesal kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Jinki yang masih menatapnya.

“Lihat saja, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku!!”

-To Be Continued-

Read –> Comment –> Like .
Thanks 🙂

[FF / JINKIBUM / BACK TO DECEMBER / ONESHOOT]

0

Title : Back To December
Genre : Angst
Author : @realala92
Main Cast : Kim Kibum, Lee Jinki
Other Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Nam Woohyun, Kim Jonghyun

Akhirnya saya buat FF onkey lagi~
Happy reading yaaa~ *ngumpet*

***

Kehilangan….

Adalah saat dimana kita dapat mengerti sebuah kata “Berharga”….

***

Aku duduk termenung di balkon kamarku, sedirian… Memeluk kedua lututku yang tertekuk, berusaha menghilangkan rasa dingin yang menusuk tulangku. Tentu saja, karena saat ini masih musim dingin dan aku hanya mengenakan baju tidur tipis tanpa mantel dan syal.

Memandang langit malam yang kelam tanpa sinar bintang, hanya terdapat bulan yang bersinar sendirian. Sebuah bulan sabit…

Begitu mirip dengan matamu….

“Kibum-a…bagaimana kalau pulang sekolah ini kita pergi ke butik Heechul hyung. Sudah lama kita tidak kesana!” Ajak Taemin penuh semangat.

Aku berpikir sejenak, menimbang-nimbang ajakan Taemin. “Kita baru ke sana tiga hari yang lalu bodoh! Aku lebih tertarik pergi ke salon. Aku rasa rambutku perlu dimasker, eum..aku mau jajal masker vanilla, masker terbaru di Onkey’s salon.” Ujarku sambil merapikan rambut blonde ku yang kembar dengan sahabatku Taemin. Ok, bahkan rambutku sama sekali tidak berantakan. Tapi itu lah aku.. Seorang Diva Kibum yang selalu ingin terlihat sempurna.

“Kalau begitu aku ikut denganmu!” Taemin terlihat bersemangat sambil menghirup susu pisang kesukaannya.

TEP

Langkahku terhenti karena seorang namja putih menghalangi jalanku dan Taemin. Namja itu tersenyum lebar memperlihatkan kedua gigi kelincinya, membuat matanya yang sipit menjadi segaris. Kyeopta!!

Apa yang baru saja aku pikirkan? Kyeopta? Aku rasa aku mulai gila karena namja sinting ini selalu mengikutiku kemana-mana. Kuputar bola mataku jengah, berbanding terbalik dengan Taemin yang mulai terkekeh kecil namun dia tahan ketika aku meliriknya tajam.

“Apa lagi maumu Jinki-shi?”

Jinki membulatkan matanya, walau hanya membuat matanya hanya sedikit membesar. “Waw..kau ingat namaku!” Ujarnya penuh bahagia.

“Ck..jangan membuang waktuku!” Aku mulai terlihat tidak sabar dengan tingkah Jinki yang selalu menggangguku.

Jinki mengeluarkan setangkai mawar putih kesukaanku dari dalam tasnya. “Ini untukmu.. Dan sekali lagi aku mau bilang. Aku menyukaimu dan aku ingin menjadi kekasihmu.”

Mungkin banyak yeoja atau namja cantik akan tertawa bahagia mendapat pernyataan cinta seperti ini..tapi aku? Ck.. Jinki bukan namja yang masuk dalam kumpulan namja incaranku. Ok, Jinki memang kaya dan wajahnya bisa dibilang lumayan, tapi sifatnya yang kekanak-kanakan yang tidak aku sukai. Aku butuh namja tampan yang penuh pesona!

Taemin mengambil bunga ditangan Jinki “Wow..ini bunga dan pernyataan cinta ke sepuluh diminggu ini. Kau tegar sekali Jinki-shi!” Kekeh Taemin.

“Kau kuterima!”

Taemin dan Jinki langsung memandangku kaget.

Mereka pasti bepikir bagaimana bisa Kim Kibum menerima Lee Jinki -namja yang sudah ditolaknya sebanyak 27 kali- ??

Sepertinya aku baru saja membuat keputusan yang mengejutkan. Entahlah..aku berpikir Jinki tidak terlalu buruk untuk dijadikan kekasihku bila dilihat dari err..uangnya?

“Kenapa kau malah bengong? Ayo antar aku ke salon!”

“Harusnya aku menolakmu.. Harusnya aku tidak pernah mengenalmu.. Huks..” Aku terisak kecil, membiarkan air matanya turun membasahi pipi tirusku.

Meremas dadaku…sesak…aku sulit bernafas…
Aku sulit bernafas tanpamu…

“Kau serius menerima Jinki?” Tanya Taemin sanksi. Namja manis itu terlihat begitu penasaran dengan apa yang aku pikirkan. Taemin sudah menjadi sahabatku sejak kecil, jadi dia pasti tau ada yang tidak beres dengan diriku.

“Kau taukan kalau dia kaya? Bahkan orang tuanya adalah pemilik saham terbesar di sekolah ini. Jadi aku rasa dia dapat dimanfaatkan.” Aku menatap Taemin sambil tersenyum penuh arti.

“Maksudmu?”

Aku berdecak kesal, ingin sekali menjitak kepala Taemin. Aku hampir saja lupa kalau otak Taemin setingkat dengan anak-anak di sekolah dasar, terlalu polos dan terkesan bodoh.

“Dia kaya, aku suka shopping, jadi kami cocok. Buktinya kemarin kita sama sekali tidak keluar uang kan? Dan seperti yang kau bilang waktu itu, wajahnya lumayan tampan. Jadi..apa kau mengerti Taemin-a??”

Taemin terdiam sebentar, sepertinya otaknya sedang mencerna kata-kataku. “Maksudmu kau hanya butuh uangnya?”

“BINGO! Dan sepertinya dia sama bodohnya denganmu, jadi aku bisa dengan mudah memanfaatkannya.”

“Kau tega sekali Kibum-a! Hati-hati kau jatuh cinta kepadanya!” Goda Taemin dan aku benar-benar mendaratkan sebuah jitakan di kepalanya.

“Itu tidak akan pernah terjadi! Dia bukan tipeku. Dia terlalu polos dan sama sekali tidak menantang!”

“Ya..seharusnya itu tidak pernah terjadi.. Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta kepadamu…” Ucapku setengah berbisik. Menatap kosong ke arah langit hitam yang menemaninya malam ini.

Menemani kesongan yang memenuhi rongga dadanya…

“Kau akan pergi ke prom night bersama Woohyun? Hey…bagaimana dengan Jinki?” Taemin menatapku tidak percaya.

Kuhirup jus strawberry yang tadi aku pesan, terkesan tidak memperdulikan pertanyaan Taemin.

“Kim Kibum! Aku sedang bertanya padamu!!” Taemin terlihat kesal, namja imut itu mengembungkan pipinya yang menandakan dia sedang marah.

Aku terkekeh kecil, berpikir mengapa seorang Choi Minho sang kapten tim basket bisa jatuh cinta kepada namja childish seperti Taemin. “Haruskah aku jawab pertanyaanmu?”

Taemin mengangguk penuh semangat.

“Siapa yang lebih populer di sekolah? Jinki atau Woohyun?”

“Woohyun.”

“Siapa yang menjadi inceran namja dan yeoja cantik di sekolah ini?”

“Woohyun.”

“Siapa yang membawa mobil ferrari ke sekolah?”

“Woohyun.”

“Lalu siapa yang aku inginkan menjadi pacarnya selama setahun ini?”

“Woohyun.”

“Nah! Jadi sudah jelaskan aku harus pergi dengan siapa?” Kibum tersenyum penuh kemenangan.

“Woo..tapi..kau tidak memikirkan perasaan Jinki! Walau bagaimanapun dia sudah menjadi pacarmu selama sebulan ini dan seluruh murid di sekolah ini tau itu.” Taemin bersikeras mempertahankan ucapannya. Taemin memang bodoh bila berpikir dengan otak, tapi ada satu keunggulannya yaitu ketulusan hatinya. Dia selalu menggunakan hati dalam melakukan semua tindakannya.

“Aku tidak perduli…dia yang ingin menjadi kekasihku, dan ini adalah konsekuensinya.” Ku ambil selembar tissue dari dompetku untuk mengelap sisa jus strawberry yang menempel di bibir tipis berwarna soft pink kebanggaanku, kemudian pergi meningalkan Taemin yang masih menatapku dengan pandangan tidak percaya.

.
.
.

Ku tatap pantulan diriku di cermin besar yang berada di kamarku yang didominasi dengan warna pink, warna kesukaanku. Malam ini aku benar-benar terlihat sangat cantik dengan kaos hitam ketat yang ditutupi oleh sebuah mantel putih dengan aksen bulu-bulu di sepanjang tangannya dipadu dengan celana berwarna soft chocolate.

“Perfect..” Gumamku saat melihat hasil usahaku mempercantik diri dari dua jam yang lalu, seperti biasa aku selalu ingin terlihat sempurna.

Aku segera berlari menuruni anak tangga rumah ketika mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumahku.

ITU PASTI NAM WOOHYUN!!

Ceklek…

Senyum di wajahku memudar ketika melihat sosok namja yang sekarang berdiri di hadapanku.

“Jinki…” Gumamku saat melihat Jinki yang menjemputnya, bukan Jonghyun. Sedikit tertegun melihat penampilan Jinki malam ini, berbeda dari biasanya. Jinki terlihat sangat tampan dengan jas hitam yang dikenakannya.

“Kau cantik sekali..” Pujinya, dan itu cukup membuatku tersenyum bangga. “Sudah siap untuk pergi?” Tanyanya dengan senyum yang tidak pernah absen dari wajahnya.

“Ya..” Jawabku singkat ketika melihat mobil ferrari merah milik Woohyun berhenti tepat di depan mobil audi hitam milik Jinki. “Woohyun-a…aku sudah menunggumu dari tadi!” Ucapku manja sambil berjalan menghampiri Woohyun yang baru saja keluar dari mobilnya.

“Maaf baby.. Tadi jalanan sedikit macet.” Woohyun mencium pipiku singkat, ck..dia membuat semburat merah berhasil muncul dengan sempurna di wajahku.

“Gwanchana.. Sudahlah, ayo berangkat. Sebentar lagi acaranya akan dimulai.”

“As your wish baby..” Woohyun membukakan pintu mobilnya untukku, ah! Woohyun memang paling tau bagaimana membuatku terpesona.

Sebelum aku masuk ke dalam mobil mewah milik Woohyun, kubalikkan tubuhku menghadap Jinki yang masih terdiam di depan pintu sambil menatapku. “Aku pergi duluan Jinki-shi! Bye~”

Aku jahat…
Aku memang manusia paling jahat di dunia ini…
Jinki, jangan menghukumku seperti ini…
Aku mohon…

Ini menyesakkan!! Kau tau? Ini membuat dadaku sesak!!
Apa ini juga yang kau rasakan waktu itu?

Mianhae…jeongmal mianhae…

“Selesaikan soal-soal itu sebagai hukumanmu, jangan coba-coba untuk kabur!” Ucap Park seonsaengnim sedikit mengancam. Aku hanya menatap setumpuk saol matematika di hadapanku dengan malas. Ck..kenapa hari ini aku sial? Kenapa Han seonsaengnim harus menemukanku yang bolos pelajarannya?

Kubaca baris pertama soal itu, aish..soal macam apa ini? Kenapa terdapat begitu banyak pangkat dan tanda akar seperti ini? Dan aku harus menyelesaikan 50 soal ini bila tidak ingin menginap di sekolah ini? Hey..ini bisa dilaporkan kepada komnas HAM! Han seonsaengnim sama saja merebut hak ku untuk pergi ke salon hari ini! Menyebalkaaaan!!!!

15 menit…

40 menit…

1 jam 20 menit…

“HUAAAAAA…aku bisa gila!!!!” Teriakku kesal karena sedari tadi aku hanya bisa menyelesaikan 2 soal! Kau bayangkan, 2 soal dari 50 soal?? Aku yakin, akan menginap di sekolah bila seperti ini caranya.

Kulihat lapangan sekolah yang mulai sepi karena hari mulai sore. Tak ada kah dari mereka yang ingin membantuku? Huks..bahkan seorang Lee Taemin saat ini malah sedang asik menemani Minho yang sedang latihan basket. Ok, kalau pun Taemin ada di sampingku saat ini, aku yakin dia tidak akan banyak membantu karena aku rasa aku masih lebih pintar darinya.

“Kau sedang melihat apa?” Tanya seseorang yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku.

“Jinki.. Ck..bodoh, kau mengagetkanku!!” Aku menatapnya kesal, namja bodoh ini selalu saja membuatku kesal walau hanya melihat wajahnya saja.

“Kenapa belum pulang?” Tanyanya lagi, setelah pertanyaan pertamanya kuacuhkan.

“Bukan urusanmu!” Bentakku. Aku berpura-pura sibuk dengan soal dihadapanku, agar Jinki tak banyak bertanya lagi.

“Tentu saja urusanku..kau kan kekasihku..”

Kulirik Jinki yang saat ini sedang menatap wajahku lekat. Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Sudah jelas-jelas waktu itu dia melihatku lebih memilih pergi dengan Woohyun, tapi dia tidak marah sama sekali kepadaku. Apa cintanya kepadaku begitu kuat? Atau karena dia punya kelainan di otaknya? Entahlah..aku tidak perduli.

“Itu tugas apa? Sini kubantu..” Jinki mengambil sebagian soal ditanganku. Awalnya aku menolak, tapi setelah kupikir-pikir tak ada salahnya kan bila dia membantuku? Setidaknya aku ada teman untuk menginap di sekolah.

“Selesai!!!!!” Teriakku senang saat 50 soal terkutuk itu telah berhasil kujawab, ah ok..aku ralat kata-kataku. Sebagian besar soal itu Jinki lah yang menjawabnya, dan aku hanya bertugas untuk menyalinnya. Ternyata dia tidak sebodoh yang aku pikirkan.

Kulirik jam bermerk yang melekat indah di pergelangan tangan kiriku. Sudah pukul 8 malam, ternyata cukup lama juga aku dan Jinki mengerjakan soal ini.

“Ayo kuantar pulang..” Ajak Jinki, dia memakai jaket dan syalnya.

“MWO? KAU TIDAK BAWA MOBIL??” Teriakku saat kami tiba di parkiran sekolah dan aku sama sekali tidak melihat mobil audi hitam kesayangan Jinki.

“Memangnya aku bilang aku bawa mobil?” Tanya Jinki dengan tampang bodohnya!

“Lalu kenapa tadi kau bilang mau mengantarku pulang??” Tanyaku kesal.

“Kita bisa berjalan kaki kan? Lagi pula rumahmu tidak terlalu jauh…” Jawabnya lagi. Aish..rasanya aku ingin sekali memukul wajah tampa dosanya itu.

Kulangkahkan kaki ku kesal meninggalkan Jinki yang masih menatapku bingung, kemudian dia mensejajarkan langkahnya denganku. Tak ada obrolan yang keluar dari mulut kami, dan akupun tak berniat untuk mengobrol dengannya.

TEP

Jinki menghenentikan langkahnya kemudian menahan pergelangan tanganku.

“YA! Apa yang kau lakukan??” Aku berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang menahanku.

Dia tak menjawab pertanyaanku, dan dia malah melepas syal yang dipakainya kemudian melilitkannya di leherku. “Kau pasti kedinginan…” Gumamnya.

Aku tertegun. Kenapa dia bisa tau kalau aku merasa kedinginan karena lupa membawa syal? Ck..ini semua diluar dugaanku, mana aku tau kalau aku akan pulang larut seperti ini karena dihukum, jadi buat apa aku repot-repot membawa syal.

“Jangan harap aku akan terpesona dengan sikapmu ini! Dan jangan harap aku akan berterima kasih padamu!” Ucapku sambil melanjutkan langkahku, meninggalkan Jinki yang lagi-lagi hanya tersenyum mendengar perkataanku. Ck..aku rasa dia memang gila!

SRET

“Ya!! Apa-apaan kau?!” Protesku saat Jinki menggenggam tangan kananku menggunakan tangan kirinya, kemudian memasukannya ke dalam saku jaket tebalnya yang mirip dengan mantel.

“Terasa lebih hangatkan?” Tanya nya sambil tersenyum dan dia menarikku untuk terus berjalan dengan posisi seperti itu, dan mengabaikan semua kata-kata protesku.

“Jinki..aku kedinginan saat ini… Huks..aku mohon munculah.. Aku butuh syal… Aku butuh genggaman tanganmu yang hangat.. Aku butuh dirimu…” Aku kembali terisak mengenang semua yang telah Jinki lakukan kepadaku.

I miss your sweet smile…

Hari ini tanggal 23 Desember 2011, hari ulang tahunku. Hah..hari ini harus menjadi hari yang special untukku!! Ok, aku memang tidak suka membuat pesta yang menghabur-hamburkan uang seperti remaja-remaja lainnya. Melakukan makan malam romantis dengan kekasihku pun sudah cukup, tapi..err..bukan kekasih bodoh seperti Jinki tentunya. Membayangkan dia akan tersenyum seperti orang gila bila memandangku saja sudah membuatku merinding.

“Ah..hari ini aku ke rumah Woohyun saja! Tak masalah bila aku yang harus mengajaknya makan malam, yang penting bisa makan malam romatis dengannya.” Gumamku sambil mulai mengambil sebuah baju yang baru kemarin aku beli bersama Taemin.

Drrrttttt… Drrrttttt…

Kuberlari kecil mengambil ponselku yang berada di kasur, siapa tau itu pesan dari Woohyun.

From: Jinki pabo

Kibum-a…aku tunggu kau di taman dekat kompleks rumahmu.
Aku akan disini sampai kau datang 🙂

Kuhela nafas panjang. “Kenapa malah Jinki sih yang mengirim pesan?” Kulempar kembali ponselku ke kasur tanpa membalasnya.

.
.
.

TING TONG

Kupencet bel apartment mewah milik Woohyun. Tak lama kemudian dia membuka pintu dengan pakaian yang rapi. “Ah..Kibum..” Ucapnya ketika melihatku.

“Woohyun-a…kau tau hari ini aku ulang tahun?” Tanyaku to the point.

“Jinca? Wah..chukkae…” Woohyun tersenyum sambil memelukku.

“Hmm..aku ke sini untuk mengajakmu makan malam merayakan ulang tahunku, kau mau?” Tawarku. Woohyun..aku mohon kau jawab iya!!

“Maaf Kibum… Tapi aku sudah ada janji dengan kekasihku.” Woohyun langsung menolak ajakanku.

Aku terdiam mendengarnya. Kekasih? Woohyun sudah punya kekasih?

“K..kau sudah punya kekasih?” Tanyaku sambil meremas tanganku, berharap aku salah dengar perkataan Woohyun barusan.

“Ne..kemarin aku jadian dengan Sunggyu, anak pemilik Woollim Ent. Dia baik, manis, pintar, dan…”

Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi. Setiap perkataan Woohyun tentang kekasihnya semakin membuat hatiku sakit. Aku menyukai Woohyun sejak satu tahun yang lalu…aku senang akhir-akhir ini dia dekat denganku..tapi kenapa aku harus patah hati secepat ini?

“Oh ya, terima kasih kemarin kau mau pergi ke prom night bersamaku. Kau tau..aku bertaruh dengan teman-temanku bila aku mampu mengajakmu.” Woohyun mengucapkan itu tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

DEG

Jadi..dia hanya bertaruh?? Oh tuhan..kenapa semua ini harus kudengar di hari ulang tahunku??

“Aku pergi dulu ya..” Woohyun mengecup pipiku singkat, kemudian berlalu meninggalkanku yang masih mematung di depan pintu apartment Woohyun.

“Huks…” Dan aku mulai terisak menyesali kebodohanku.

.
.
.

Kubalikkan tubuhku. Ck..kenapa aku tidak bisa tidur? Ok..aku memang masih kecewa kepada Woohyun, tapi sepertinya ada hal lain..ada hal yang aku lupa…

Kutatap jam dinding yang berada di kamarku. Sudah pukul 11:35 malam. “Aish..aku kenapa sih??” Kuacak rambutku kesal.

Aku akan disini sampai kau datang….

“Ah Jinki!!!” Pekikku saat mengingat pesan singkat dari Jinki tadi sore. Apa namja bodoh itu masih menungguku?? Ah..tidak tidak..dia pasti sudah pulang, ini sudah 6 jam sejak dia mengirim pesan itu. Tapi apa mungkin….

“JINKI!!” Teriakku saat melihat seorang namja yang tengah duduk di kursi taman yang sudah sepi sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya.

Namja itu menoleh ke arahku, kemudian tersenyum lebar.

Apa dia sudah gila? Di saat seperti ini masih bisa tersenyum seperti itu???

Dia bangun dari duduknya dan berjalan ke arahku. “Aku tau kau akan datang….” Ucapnya pelan. Kutatap wajahnya yang terlihat pucat, serta bibirnya yang terlihat membiru, dia pasti kedinginan!!

Dia melirik jam dipergelangan tangannya. “Masih sempat…” Gumamnya ketika melihat jam menunjukkan pukul 11:56 . “Selamat ulang tahun Kibum… Aku mencintaimu…” ucapnya sambil memberikan seikat bunga mawar merah kepadaku.

Air mataku perlahan menetes membasahi pipi mulusku. Sebegitu tulusnya kah dia mencintaiku??

Aku menghambur ke dalam pelukan Jinki. “Kau bodoh! Kau bodoh Lee Jinki! Aku membencimu! Huks…”

“Kenapa waktu itu kau menungguku? Kenapa kau tidak pergi saja? Kenapa kau membiarkan aku mulai mencintaimu? Kenapa Lee Jinki? Kenapa? Dan kenapa sekarang kau meninggalkanku?” Terus mengeluarkan segala perasaan yang membuatku sesak, membuatku ingin terus menangis.

Kenapa?
Kenapa?
Dan kenapa?

Aku tersenyum puas melihat hasil dekorasiku di taman belakang rumahku yang cukup luas. Aku sengaja mendekorasi taman ini untuk merayakan ulang tahun Jinki malam ini. Ya..perlahan aku mulai tersentuh melihat ketulusan hatinya. Malam ini aku bertekad untuk bilang kalau aku juga mencintainya..mencintai seorang Lee Jinki bodoh yang tulus mencintaiku…

“Ah..aku capek sekali.” Keluh Taemin sambil duduk di ayunan, dan Minho terlihat mendekati Taemin dan mulai mengurut pundak Taemin. Ck..mereka membuatku iri!! Lihat saja, besok aku juga akan bermanja-manjaan seperti itu pada Jinki ku!!

Aku berjalan mendekati mereka berdua. Kuberikan dua kaleng softdrink untuk mereka berdua. “Terima kasih mau membantuku…”

.
.
.

Aku berjalan mondar-mandir di pintu gerbang rumahku. Sudah hampir semua tamu datang, tapi batang hidung Jinki tak kunjung muncul. “Kau kemana sih Lee Jinki?!” Aku menggeram kesal.

Aku mengambil ponselku dan berusaha menghubunginya.

Tuuut.. Tuuut…

“Yoboseyo…” Jinki mengangkat telpon saat bunyi sambungan yang ketiga.

“KAU DIMANA LEE JINKI?! SEMUA TAMU SUDAH DATANG DAN KAU MASIH BELUM MUNCUL!!!” Teriakku kesal, apa dia menganggap remeh pesta yang telah susah payah aku buat demi dirinya ini??

“Aku terjebak macet..ck..aku tidak tau di jalan ini ada perbaikan jalan.” Jelas Jinki.

“Aku tidak perduli! Bila setengah jam lagi kau tidak muncul maka kita putus!!!” Ancamku dan langsung memutuskan sambungan telponnya.

15 menit…

45 menit…

Pesta sudah aku mulai sejak 30 menit yang lalu, karena tidak mungkin membiarkan tamu-tamu itu kebosanan karena menunggu Jinki. Semua terlihat saling bercengkrama bahagia berkumpul seperti ini. Tapi aku..masih berdiri cemas menunggu kedatangan Jinki, entah kenapa perasaanku jadi tidak enak.

Drrrtttt… Drrrtttt…

Ponsel yang sedari tadi kupegang bergetar tanda ada panggilan masuk, segera kupencet tombol virtual hijau untuk mengangkat panggilan itu. “Yoboseyo…”

“…”

“Ya, ini aku Kibum kekasihnya. Ada apa?”

“…”

“A..apa?? I..ini tidak mungkin?? Kalian jangan bercanda!!”

“…”

“JANGAN MEMBUAT LELUCON SEPERTI INI!!! INI TIDAK LUCU!!!” Aku berteriak histeris membuat semua tamu menatapku bingung. Air mataku mengalir deras membuat make up ku yang sempurna menjadi hancur.

Taemin berjalan mendekatiku. “Ada apa Kibum-a?” Tanyanya khawatir.

“Mereka bilang..Ji..jinki..huks..dia kecelakaan……”

.
.
.

Aku hanya menangis di depan pintu ruang UGD tempat Jinki sedang dirawat, mereka bilang Jinki mengalami luka yang serius karena mobilnya jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Itu terjadi karena dia mengambil jalan pintas menuju rumahku yang cukup berbahaya bila dilewati malam hari.

“Ini salahku….” Hanya kata-kata itu yang aku ucapkan di sela isak tangisku sejak tadi. Taemin menatap miris kepadaku kemudian memelukku, mencoba menenangkanku.

“Ini bukan salahmu…ini hanya sebuah takdir….” Bisik Taemin.

Ceklek

Pintu ruang UGD itu terbuka dan muncul lah seorang dokter yang sejak tadi aku tunggu untuk memberiku penjelasan tentang keadaan Jinki.

“Bagaimana dok?” Tanyaku penasaran.

Dokter itu menatapku prihatin, kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Maaf…kami sudah berusaha semampu kami tapi Tuhan berkehendak lain…”

Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya dengan apa yang dokter tua bangka itu katakan, ini pasti hanya lelucon!!!! “TIDAAAAAAAAKKK!!!! JINKI PASTI MASIH HIDUP!!! JINKI AKAN SELALU DISAMPINGKU!!”

Aku berlari menerobos masuk ke dalam ruang UGD itu, menangis kencang saat melihat tubuh Jinki yang terbujur kaku dan penuh dengan luka-luka. “Jinki..bangun…” Aku mengguncang-guncang tubuhnya yang terasa dingin di kulitku.

Taemin tak menghentikanku, dia hanya menangis terisak di pelukan Minho.

Kupeluk tubuh kaku Jinki, menenggelamkan wajahku pada dadanya yang bidang. “Bangun Jinki…huks..aku mohon…”

“Bangun Jinki….aku belum bilang kalau aku mencintaimu…….”

Aku menyesal Jinki…
Aku ingin kembali ke hari itu…
Aku ingin mengubah semuanya…

“KAU JAHAT JINKI!!! KAU JAHAT PADAKU!!! KENAPA KAU MENINGGALKANKU!!!!” Aku berteriak histeris. Berjalan tergesa-gesa masuk ke kamarku, membuka semua laci-laci di kamarku mencari sebuah benda. Benda yang akan membuatku bertemu dengan Jinki….

TOK TOK TOK

“Kibum..buka pintunya!!!” Terdengar Jonghyun hyung mengedor-gedor pintu kamarku. “Jangan berbuat hal yang tidak-tidak!!!”

“Maaf hyung…aku tidak bisa hidup tanpa Jinki…” Bisikku sambil menatap sebuah pisau lipat di tanganku. “Jinki…kita akan bertemu lagi…..” Kusayat pisau itu ke pergelangan tanganku.

Tanganku perih…
Tapi ini akan menghilangkan perih di hatiku….

Dan semua menjadi gelap…..
Jinki, tunggu aku….
Aku akan menemuimu sekarang….

-THE END-

Apa ini? Ini apa? HAHAHAHA
Udah baca trus mau bunuh saya??? Ampuuuuuun #kabuuur

Boleh bunuh saya tapi RCL dulu ya!! Wkwkwkwkwk..

[FF/YAOI/ONKEY/IT’S HURT/2of2]

1

“ITU URUSANKU! KARENA AKU MENCINTAI JINKI HYUNG! AKU TIDAK INGIN KAU MENYAKITINYA!!”
Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Dan Taemin terdiam menatapku.

Kemudian dia terkekeh kecil. Hey, apa ucapanku barusan begitu lucu?

“Taeminnie..apa yang kau tertawakan?” Tanyaku bingung melihat Taemin yang masih tidak berhenti tertawa. Bukankah seharusnya dia marah padaku karena telah lancang menyukai kekasihnya?

“Aku menertawakan kebodohanmu! Pabo!”

Ne? Kebodohanku?
Aish..aku memang bodoh menyukai kekasih sahabatku.
Dan Taemin pasti sedang mengolok diriku kan?

“Sudahlah..aku pusing memikirkan dua orang bodoh seperti kalian.” Ucap Taemin lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya, namun dia berhenti dan membalikkan badannya sebelum menutup pintu rumahnya. “Oh ya, aku mohon kau jangan bilang pada Jinki hyung kalau aku pergi dengan Minho. Kalau kau sampai bilang padanya persahabatan kita akan putus! Arra?” Ancam Taemin kemudian menutup pintu rumahnya, meninggalkan aku yang masih terdiam di posisiku dengan tanda tanya besar di otakku.

Dua orang bodoh?
Apa maksudnya?

***
“Kau yakin sudah kuat sekolah hari ini? Lihat wajahmu masih pucat seperti itu..” Jonghyun hyung memandangku dengan khawatir. Ah, beruntung sekali aku memiliki hyung sebaik dia.

Kuanggukkan kepalaku meyakinkannya. “Aku tidak apa-apa, hyung. Aku malah bertambah pusing bila berada seharian di rumah.”

“Ya sudah, telpon aku kalau kau sudah pulang. Aku akan menjemputmu.”

“Arra…sudah sana kau pergi!”

“Aish.. Kau mengusirku? Dongsaeng macam apa kau ini?”

Aku tertawa mendengar ucapan Jonghyun hyung. Hah..dia benar-benar hyung terbaik di dunia ini. “Aku masuk dulu. Annyeong hyung jelek!” Kulangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah, mengabaikan omelan Jonghyun hyung karena aku memanggilnya jelek. Dia adalah tipe manusia dengan tingkat percaya diri yang tinggi, jadi dia sangat membenci bila ada yang bilang dia jelek, ck..

“Kibum-a…”

DEG
Aku berhenti melangkahkan kakiku ketika seseorang –dengan suara lembut yang sangat kukenal– memanggilku.

“Mianhae.. Kemarin aku benar-benar lupa ada janji denganmu.”
Kalian pasti tau kan siapa orang yang sekarang berdiri di depanku? Ya..lee jinki.

Mencoba memaksakan diri untuk tersenyum di depannya. Entah harus sampai kapan aku menjadi seseorang yang munafik bila berada di dekatnya. Berpura-pura tersenyum padahal hati kecilku menangis, oh..aku benar-benar terlihat seperti aktor yang sangat profesional.

“Gwaenchana..lagi pula aku juga lupa hyung. Malah tertidur sampai siang. Hehehe…”

Jinki hyung terdiam mendengarnya. Ah, apa dia tau aku sedang berbohong? Aku harap itu tidak terjadi!

“Kau sakit?”

Ya..aku sakit karenamu bodoh!
Rasanya aku ingin berteriak seperti itu di depannya. Terus memendam perasaan ini sangat menyakitkan! Dan aku rasa aku akan mati perlahan-lahan karena sakit ini.

Aku tersentak dari lamunanku saat ku rasakan tangannya yang lembut dan hangat menyentuh keningku. Lee Jinki…kau membuat jantungku serasa mau copot! Aish..

“Badanmu panas…kenapa masih pergi ke sekolah?”

Karena aku bisa mati bila tidak melihatmu selama dua hari ini. Nafasku sesak karena rasa rindu yang begitu membuncah di dadaku.

Sret…

“Eh, kita mau kemana hyung?” Tanyaku bingung ketika dia menarik tanganku agar mengikuti langkahnya.

“Ruang kesehatan…”

***
“Eung…” Kubuka mataku perlahan, membiasakan mataku dengan sinar matahari yang menerobos masuk ke mataku yang sedari tadi terpejam. Bau obat-obatan yang sedikit menusuk sangat tercium di hidungku. Ah, tentu saja. Karena aku masih berada di ruang kesehatan.

“Kau sudah bangun?”

Kutatap sosok seorang namja yang duduk di sampingku yang masih terbaring. Jinki hyung.. Dia menungguku sampai bangun? Err..kenapa wajahnya terlihat begitu khawatir, ck..jangan terlalu berharap lebih Kim Kibum!

Tep.
Sedikit kaget saat dia menyentuh keningku –lagi– dengan lembut.

“Panasmu sudah turun.” Ucapnya kemudian. “Sudah merasa lebih baik setelah beristirahat?”

Aku hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaannya. “Apa hyung dari tadi menungguku di sini?”

“Ah..ani..aku baru saja ke sini.. Baru saja setelah sekolah usai.”

Hmm.. Benarkan pemikiranku tadi, jangan terlalu berharap! Jinki hyung hanya prihatin melihat keadaanku, tidak lebih. Kenapa aku selalu berharap lebih dan lebih? Bodoh!

“Eum..mau ku antar pulang?”

Berhentilah bersikap baik kepadaku..
Jebal…
Karena itu hanya akan membuatku semakin berharap kepadamu..
Karena itu hanya akan membuatku bermimpi bisa lebih dekat denganmu..
Karena itu akan semakin membuatku sakit saat mimpi dan harapan itu berakhir…

“Jinki hyung.. Aish, ternyata kau ada di sini. Dari tadi aku mencarimu!” Seorang namja imut muncul dari balik pintu, tentu saja itu Taemin.

“Ada apa Taeminnie?”

Taeminnie? Kenapa terdengar begitu manis…sekaligus terdengar begitu perih bagiku?

“Hari ini hyung kan janji mengantarku ke tempat les tari..jangan bilang hyung lupa?” Ujar taemin sambil mengerucutkan bibirnya imut, ck..dia benar-benar terlihat begitu manis dan yeppeo..

“Ah.. Tapi…”

“Sudahlah hyung, cepat antarkan Taemin. Lagipula Jonghyun hyung bilang akan menjemputku nanti.. Kalian pergi saja duluan.” ucapku memotong perkataan Jinki hyung.

Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang dalam hubungan Jinki hyung dan Taemin, walau aku harus merasakan sakit ini, sesak ini, perih ini selamanya…

“Baiklah kalau begitu, kau harus baik-baik saja! Cepat sembuh neee~!” Jinki hyung mengacak rambutku lembut, membuat sesuatu yang bergemuruh menghantam dadaku.

Jangan membuatku terlalu berharap hyung…

“Kibum-a…cepat sembuh ya!” Taemin tersenyum kepadaku, senyuman yang begitu tulus. “Jinki hyung..ayo cepat! Aku sudah terlambat!” Taemin menarik tangan Jinki agar berjalan lebih cepat dan meninggalkanku sendirian.

Kenapa mimpi dan harapan datang dengan mudah..
Dan hilang begitu saja dalam sekejap..

Mulai terisak kecil, merasakan sesuatu yang sangat perih menusuk di hatiku..
Sampai kapan aku dapat bertahan?
Sampai kapan perasaan ini tumbuh di hatiku?
Sampai kapan perasaan ini pula menyakitiku?

Mungkinkah sampai nafasku terhenti…..

Huks…
Neomu appa..

***
“JONGHYUN HYUNG, KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKANKU????” Teriakku saat menatap jam weaker berwarna pink di atas nakas di samping tempat tidurku sudah menunjukkan pukul 06.50

Aku langsung berlari menuju kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi.

.
.
.

Aku berlari kecil menuruni anak tangga sambil memakai dasiku. “Ck..kenapa hyung tidak membangunkanku?” Tanyaku kesal saat kulihat Jonghyun hyung sedang membuat roti panggang di dapur.

“Bagaimana mungkin membangunkanmu saat kulihat wajahmu yang sangat menghawatirkan seperti itu. Aku rasa kau baru tidur beberapa jam. Ck..namja bodoh!” Tutur Jonghyun hyung sambil membawa sepiring roti bakar ke meja makan.

Aku hanya mengembungkan pipiku kesal mendengar ucapan Jonghun hyung. Dia pasti sedang mengejekku yang semalaman menangis seperti orang frustasi, tentu saja menangisi Jinki hyung. Huks..kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa sebuah perasaan yang biasa disebut CINTA membuatku menjadi seperti ini??

Kuambil sebuah roti bakar dari tangan Jonghyun hyung lalu berlari menuju pintu. “Aku berangkat hyung!”

***
“Ahjussi..jebal biarkan aku masuk. Lagipula aku hanya terlambat lima menit.” Ucapku memohon kepada seorang pria cukup berumur yang mengenakan seragam keamanan, dia Park ahjussi penjaga sekolah paling galak dan paling sok tertib di sekolahku. Ck..sedikit sebal karena Park ahjussi mengabaikan ucapanku dan berlalu kembali ke pos tempatnya berjaga, meninggalkanku di depan pagar yang baru saja dia gembok. Aish..menyebalkan!

“Dasar pria tua menyebalkan!” Umpatku sambil menendang pagar berwarna hitam yang cukup tinggi menutupi sekolahku.

“Apa kakimu tidak sakit menendang pagar besi itu?” Tanya sebuah suara yang membuatku langsung membalikan tubuhku.

“Ah..Jinki hyung sejak kapan kau disitu?” Tanyaku sedikit gugup. Hey, jangan bilang dia melihat semua kejadian memalukan tadi! Datang sekolah terlambat dan mengumpat penjaga sekolah tua super menyebalkan itu, dan menendang pagar besi yang membuat kakiku sedikit berdenyut, err..itu benar-benar memalukan! Aku yakin dia pasti langsung ilfeel kepadaku. Hancur sudah semua harapanku~

“Dari beberapa menit yang lalu. Wajahmu yang sedang mengumpat sambil menendang pagar besi itu sangat lucu.” Jinki hyung terkekeh kecil, membuat mata bulan sabitnya menghilang. Kyeopta!!

“Err..hyung juga terlambat?” Sedikit mengalihkan topik pembicaraan yang memalukan ini.

“Ne.. Tadi aku bangun kesiangan karena Taemin menelpon semalaman, ck..anak itu benar-benar cerewet!”

Hey..lihat wajah Jinki hyung terlihat sebahagia itu saat membicarakan Taemin.

Nyuuut~
Huks..hati pabo ini kenapa terasa sakit -lagi- ??

“Ah, Kibum-a bagaimana kalau sekarang kau temani aku sarapan. Aku benar-benar lapar. Hmm..sekalian sebagai permohonan maafku karena lupa dengan janji kita tempo hari. Otte?”

Dan kalian tau?? Rasa sakit di hatiku tadi langsung hilang tak tersisa! Ok, Jinki hyung memang orang yang pandai membuat mood ku membaik dan memburuk.

Kuanggukkan kepalaku penuh semangat. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini!

“Kajja~”

***
“Terima kasih kau mau menemaniku sarapan.” Ucap Jinki hyung saat kami keluar dari sebuah cafe di pinggir jalan dekat sekolah. “Ah, kau tunggu sebentar disini. Aku akan segera kembali.”

Jinki hyung berlari kecil menuju sebuah kedai es krim di sebrang jalan. Mau apa dia?
Mengetuk-ngetuk ujung sepatu converse berwarna hitam dengan line pink favoriteku ke tanah, penasaran dengan apa yang sedang Jinki hyung lakukan di sana.

“Ini untukmu”

Aku tertegun melihat sebuah es krim bertingkat rasa strawberry dan vanilla yang Jinki hyung berikan kepadaku. Ini rasa favorite ku!! Bagaimana dia tau?? Apa mungkin dia adalah stalker ku? Ck..pikiran macam apa itu? Mana mungkin Jinki hyung melakukan hal bodoh macam itu.

“Kau suka?”
Ish..kenapa dia bertanya seperti itu? Tentu saja aku suka! Bahkan bila kau memberiku sekarung wortel –makanan yang paling ku benci– aku pasti akan memakannya!! Terdengar berlebihan kah? Hey..kalian sering dengarkan kalau cinta itu gila!! Ya, aku gila!! Benar-benar gila terhadap Lee Jinki!!

“Eum..” Bahkan aku hanya bisa mengeluarkan gumaman kecil sambil mengambil es krim itu, aku tak tau harus bicara apa. Ok, kalau aku sudah tidak punya malu, aku pasti akan berteriak histeris sambil melonjak-lonjak seperti orang gila. Jinki hyung membelikan es krim untukku! Hey..ini sangat maniiiiiiissssss..

. . .

“Jepit itu bagus..” Jinki hyung mengambil sebuah jepit rambut berbentuk kunci berwarna pink penuh dengan glitter yang terlihat simple namun terkesan mewah. Saat ini kami berdua sedang melihat-lihat pernak-pernik milik pedagang kaki lima di pinggir jalan. Jiwa shoppaholic ku langsung bangkit saat melihat pernak-pernik lucu dengan harga terjangkau seperti ini –”

DEG
Jantungku serasa mau copot saat Jinki hyung memakaikan jepit itu di rambutku. Dan kalian tau dia bilang apa??

YEPPEOYO…!!!

AAAAAAAA~ aku tidak salah dengarkan? Dia bilang aku yeppeo?? Tuhan, kalau kau ingin menyabut nyawaku, cabutlah sekarang karena aku tidak akan menyesal bila harus mati sekarang –setelah mendengar orang yang paliiiiiiiiiiiing aku cintai bilang aku cantik!!–

Kutundukkan kepalaku menutupi wajahku yang aku yakin telah berubah warna menjadi serupa dengan warna kepiting yang telah direbus –”

“Aku belikan jepit itu untukmu..kau sangat cocok memakainya.” Jinki hyung mengeluarkan beberapa lembar uang seribu won dan memberikannya kepada pedagang kaki lima itu.

“Terima kasih.. Semoga kalian berdua berjodoh, kalian sangat serasi.” Ucap penjual itu membuatku semakin menundukkan kepalaku malu.

“Ayo kuantar pulang” Jinki hyung menarik tanganku menuju mobil audi hitamnya yang tadi dia parkir di depan cafe tempat kami makan.

“Ah..hyung tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Tolakku. Ah, aku pasti akan menyesal menolak ajakannya ini. Tapi bagaimana mungkin Jinki hyung mengantarku pulang, sedangkan rumahku dan rumah Taemin saling berhadapan! Kalau Taemin melihatnya, hancur sudah persahabatan kami selama ini. Dia pasti akan mengira aku merebut pacarnya!!

“Aku tidak bilang kau boleh menolaknya.” Ujar Jinki hyung membuatku tercengang, hey..apa dia tidak takut Taemin akan salah paham tentang hal ini??

.
.

“Kau mencemaskan sesuatu?” Tanya Jinki hyung. Mungkin dia merasakan kecemasanku yang semakin meningkat seiring dengan semakin dekat rumahku.

“Taemin sedang tidak ada di rumah, dia bilang sedang pergi dengan temannya.” Jelasnya seolah-olah dia bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan.

Taemin sedang pergi dengan temannya??
Apa jangan-jangan itu adalah Minho??

“Terima kasih hyung telah mengantarku pulang.” Ujarku kepada Jinki hyung saat mobil audi hitamnya berhenti tepat di depan rumahku.

“Eum..terima kasih juga mau menemaniku hari ini.”

“Aku yang harusnya berterima kasih karena hyung telah mentraktirku makan, membelikanku es krim, dan memberiku jepit rambut.”

Jinki hyung tersenyum lebar mendengar ucapanku. “Kau pantas mendapatkan itu…”

“Nde?” Tanyaku sanksi atas pendengaranku. Dia bilang aku pantas mendapatkan ini semua? Apa maksudnya?

“Kibum-a…” Jinki hyung memanggil namaku lembut membuat bulu kudukku sedikit menegang. Aku merasa aura di mobil ini menjadi berubah..entahlah..

Dan yang semakin membuatku shock adalah saat Jinki hyung mendekatkan wajahnya ke wajahku sampai…

Chu~ ♡

Bibir kami saling bersentuhan!!!
Demi Tuhan aku bisa pingsan saat ini! Tubuhku lemas saat merasakan bibir Jinki hyung yang hangat mengulum bibirku lembut.

Ini adalah First Kiss ku!! Dan aku melakukannya dengan Jinki hyung?? Aku tidak bermimpikan??
Kalau pun ini mimpi aku mohon jangan bangunkan aku saat ini Tuhan!! ><

"Ah maaf…" Seolah-olah sadar akan sesuatu Jinki hyung menghentikan ciumannya dan memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya. "Aku tidak sengaja, maaf."

D..dia menyesal??

BRAK!
Aku membating pintu mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah.

Tuhan kenapa kau suka sekali membuatku merasakan sakit seperti ini? Huks..
Kenapa dia harus menciumku bila akhirnya dia menyesal? Kenapa Tuhan? Apa sebegitu burukkah aku??

Neomu appa..

***
"Kibum-a..antarkan aku ke kantin yuk! Aku lapar sekali.." Rengek Taemin sambil menarik tanganku. Aku ingin menolaknya, tapi sungguh aku tidak tega melihat wajah Taemin yang memelas kelaparan seperti ini. Semoga saja aku tidak bertemu dengan Jinki hyung.. Ck, mungkin ini pertama kalinya aku tidak ingin melihat wajah Jinki hyung.

"Kau seperti belum makan seminggu." Ledekku saat melihat Taemin memakan ramyeon nya dengan sangat cepat, aku takut dia tersedak bila makan seperti itu.

"Aku belum makan dari kemarin malam karena Jinki hyung tidak berhenti menelponku semalaman. Ck.." Aku terdiam ketika Taemin menyebut namanya. Aku rasa dia pasti sangat merasa bersalah kepada Taemin atas kejadian kemarin.

"JINKI HYUNG!!"

DEG!
Jantungku kembali berdebar saat Taemin memanggil namja putih bermata sabit yang baru saja masuk ke dalam kantin. Tuhan..sungguh aku belum siap untuk bertemu dengannya sekarang.

"Annyeong.." Jinki hyung tersenyum lebar sambil mengacak rambut Taemin penuh sayang. Dan kalian tau? Dia sama sekali tidak melirikku, apa aku bagaikan makhluk kasat mata di hadapannya??

Huks..
Hanya mampu meremas tanganku menahan tangis..

Aku tidak kuat!
Mataku sudah perih menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku!
Ini sangat menyakitkan..

"Taemin aku ke toilet dulu ya.."

Aku berlari sekuat-kuatnya. Aku tidak sanggup lagi Tuhan…

***
"Kau tidak ke sekolah lagi?" Tanya Jonghyun hyung yang melihatku prihatin. Sudah 2 hari ini aku tidak masuk sekolah dan hanya mengurung diri di kamar sambil menangis..

"Perlukah aku ke sekolahmu untuk mencari namja bodoh bernama Jinki itu kemudian menghajarnya hingga babak belur karena telah membuat adikku menjadi seperti ini?"

"Kalau hyung melakukan itu aku tidak akan menganggapmu sebagai kakakku lagi!" Ujarku masih dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhku.

"Ck..bahkan saat ini kau masih saja membelanya." Cibir Jonghyun hyung sambil membuka tirai yang meutupi jendela kamarku. "Apa kau itu tidak punya otak, eum?"

"Walau aku tidak punya otak, tapi aku punya hati hyung…."

Jonghyun hyung terdiam mendengar ucapanku, sampai akhirnya dia menghela nafas panjang. "Terserah kau sajalah.. Tunggu sebentar, aku akan bawakan sarapan untukmu."

.
.

TOK TOK!

"Ish..tumben hyung pake acara ketuk pintu dulu." Gumamku kesal. "Masuk saja hyung…" ujarku sambil tetap membungkus seluruh tubuhku dengan selimut.

Kudengar seseorang membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam kamarku, aku yakin itu Jonghyun hyung yang membawakanku sarapan.

Hening.. Hey, tumben sekali Jonghyun hyung tidak mengeluarkan jurus bawelnya untuk memaksaku makan, apa dia sudah lelah menghadapiku yang semakin manja?

"Mian…" Kurasakan sebuah tangan mengelus kepalaku –yang masih berbalut selimut– dengan lembut.

Eh?

Kubuka selimut yang menutupi kepalaku untuk melihat sosok yang saat ini sedang duduk di samping ranjangku sambil mengelus rambutku lembut.

"Jinki hyung!!" Pekikku saat melihat wajah chubby itu.

"Kenapa kau kaget seperti melihat hantu? Tenang..aku bukan jelmaan dari foto-foto itu, aku Jinki yang asli." Jinki hyung menunjuk foto-foto dirinya yang memenuhi dinding kamarku kemudian dia terkekeh kecil.

Blush..
"A..ah..ini tidak seperti yang kau pikirkan hyung." Gugupku berusaha mencari alasan. Tapi alasan apa?? Apa aku harus bilang kalau aku memasang foto-foto itu untuk menakuti nyamuk? Ck..Jinki hyung pasti berfikir aneh tentangku. Bahkan mungkin dia berfikir kalau aku adalah seorang psycho!

"Tenang saja, aku bukan pertama kalinya kok melihat ini."

"Mwo?"

"Nanti akan aku jelaskan.. Eum, kenapa dua hari ini kau tidak ke sekolah?"

Karena kau hyung!!
Karena aku sakit melihat kau tidak menganggapku ada di sekitarmu!!

"Hanya merasa tidak enak badan hyung." Ucapku berusaha tersenyum. "Hyung ada perlu apa kesini?"

"Untuk menjelaskan semuanya…."

Menjelaskan apa?
Menjelaskan kalau dia tidak sengaja menciumku dan sekarang dia menyesal?
Atau menjelaskan kalau dia adalah milik Taemin dan aku seharusnya tidak menyukainya?

Huks.. Jinki hyung, berhentilah membuatku merasakan sakit seperti ini..

"Ya..aku belum mulai bicara kenapa kau menangis?" Jinki hyung melihatku bingung.

Kuseka air mata yang kembali mengalir di mataku yang sudah cukup sembab. "Hyung, lupakan saja kalau aku mencintaimu…anggap saja kau tidak pernah tau tentang ini."

"Lalu melupakan juga kalau aku mencintaimu?"

Nde?
Apa maksud Jinki hyung?
Dia mencintaiku? Lalu Taemin?
Yaaa…kenapa ini semakin membuat kepalaku serasa mau pecah!

"Aku tau kau sangat mencintai Taemin hyung, jadi aku mohon jangan membohongiku."

Jinki hyung menghela nafas panjang. "Dengarkan penjelasanku, kau cukup diam dan jangan menyela perkataanku. Arra?"

Perlahan kuanggukkan kepalaku.

"Aku dan Taemin tidak pernah berpacaran.."

MWO??
Aku ingin mengeluarkan sejuta pertanyaan untuk Jinki hyung, tapi karena aku berjanji padanya untuk hanya diam dan mendengarkan, aku mengurungkan niatku itu.

"Kau taukan kalau aku adalah ketua club seni yang err..bukannya aku menyombongkan diri, tapi memang banyak yeoja dan namja cantik yang mendekatiku. Dan sungguh aku belum pernah berpacaran sehingga itu membuatku risih!"

Jinki hyung belum pernah berpacaran?
Atau jangan-jangan ciuman tempo hari adalaha ciuman pertamanya juga??
Omo…

"Sampai akhirnya Taemin masuk ke sekolah yang sama denganku. Kau mungkin tidak tau kalau aku adalah kakak kandung Taemin.."

"Kakak kandung? Tidak mungkin! Aku sudah mengenal Taemin sejak dulu dan yang aku tau dia adalah anak tunggal!" Ucapku tidak percaya, ok..aku minta maaf karena telah mengingkari janjiku untuk diam.

"Umma dan Appa sudah lama bercerai, sejak Taemin berusia 4 tahun. Dan Umma memilih merawat Taemin yang masih kecil dan Appa membawaku pergi ke Jepang." Jinki hyung terdiam sebentar, mungkin ini adalah salah satu kenangan pahit untuknya. "Appa merawatku dengan sangat baik sampai sekarang, tapi jujur aku membutuhkan kasih sayang seorang Umma. Dan kau tau, aku tidak pernah bertemu Umma dan Taemin sampai usiaku 15 tahun."

Aku tau hyung… Bahkan aku tidak mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis mereka, bahkan mungkin mereka lupa telah melahirkan aku dan Jonghyun hyung. Hanya Jonghyun hyung yang aku punya…

"Sampai Appa pindah tugas ke Seoul dan membawaku kembali ke sini. Aku bisa bertemu Umma dan Taemin lagi. Adik kecilku yang sudah tumbuh besar dan sangat manis. Dan ide itu muncul..aku meminta Taemin berpura-pura menjadi pacarku untuk mengindari gangguan para penggemarku." Jinki hyung terkekeh.

"Ck..kau terlalu percaya diri hyung!"

"Ya! Apa kau lupa kalau kau adalah salah satu penggemarku! Bahkan mungkin kau yang paling freak mengikuti sampai seperti ini." Jinki hyung menahan senyum melihat mukaku yang berubah warna menjadi kemerahan.

Mungkin dia benar.. Aku memang sinting karena dirinya..

"Sampai akhirnya aku bertemu denganmu di sekolah… Aku langsung ingat kau adalah namja manis yang pernah tidak sengaja terkena cipratan mobilku. Kau tau aku sudah tertarik denganmu sejak hari itu. Bahkan kau adalah namja cantik pertama yang naik di mobilku!"

Jinca?
Apa semua ini bukan mimpi?
Aku sedikit mencubit tanganku dan sakit! Ini bukan mimpi….

"Ini bukan mimpi bodoh!" Jinki hyung terkekeh sambil mengelus kepalaku lembut. "Aku senang ternyata kau adalah sahabat Taemin, aku berpikir aku bisa sedikit lebih dekat denganmu. Dan aku benar-benar tidak menyangka bahwa kedekatanku dengan Taemin membuatmu seperti ini… Mian"

Aku menggelengkan kepalaku pelan, aku hanya ingin bilang 'aku tidak apa-apa hyung! Kau membuatku menjadi namja yang kuat!' Ck..

"Lalu kenapa waktu itu kau melupakan janjiku untuk pergi ke perpustakaan? Dan kenapa kau menyesal telah menciumku dan berpura-pura tidak melihatku? Kau tau..itu membuatku sangat terluka.."

Air mataku lagi-lagi mengalir mengingat hal itu…

"Aku akan jelaskan semuanya…" Jinki hyung menyeka air mataku dengan ibu jarinya. "Aku tidak lupa dengan janji kita waktu itu. Kau tau..aku sangaaaaaaat senang bisa pergi berkencan denganmu, bahkan karena terlalu senang aku tidak memperhatikan jalan saat menyetir dan aku tidak sengaja menabrak anak kecil yang sedang menyebrang."

"Kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa harus membiarkan aku merasa sangat tidak berarti untukmu hyung?" Ucapku serak karena terlalu banyak menangis.

"Aku tidak ingin membuatmu khawatir.. Tapi setelah anak itu sadar dan dokter bilang dia sudah membaik aku langsung pergi ke taman tempat kita janjian, dan aku menemukanmu pingsan. Maaf, aku benar-benar menyesal…"

"Jadi kau yang membawaku pulang, bukan Jonghyun hyung?" Tanyaku bingung.

"Ya, dan aku yang meminta Jonghyun hyung agar tidak memberitahukan hal ini. Aku sangat menyesal Kibum-a.." Jinki hyung menatapku penuh penyesalan, dan kalian tau..ini malah semakin membuatku ingin menangis! Aku terharu!

"Dan sejak hari itu aku tau kalau kau juga memiliki perasaan yang sama. Jujur aku terperangah saat melihat begini banyak fotoku yang kau kumpulkan. Taemin juga bilang kalau kau melihatnya berciuman dengan Minho dan kau marah besar kepadanya, sampai kau bilang bahwa kau menyukaiku."

Cukup Jinki hyung…kau membuatku malu!!

"Dan soal ciuman kemarin aku bukan menyesal karena kau tak pantas untuk aku cium, tapi aku hanya malu dan takut kau marah kepadaku. Ish..entahlah, aku bahkan sampai tidak bisa tidur memikirkannya dan menelpon Taemin semalaman untuk meminta saran darinya."

"Kibum-a…aku mencintaimu. Sangat mencintaimu…"

Kata-kata itu! Kata-kata yang sangat ingin aku dengar sejak dulu.
Huks…aku benar-benar tidak menyangka akan mendapat akhir yang bahagia seperti ini.

Kupeluk Jinki hyung erat. "Na do sarangahae hyung…." Kumenangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Jinki hyung yang sangat hangat. Huks.. Tuhan, aku benar-benar bahagia saat ini..

Jinki hyung melepaskan pelukanku, dia menatapku dalam. Menghapus air mata yang memenuhi wajahku dengan sapu tangan miliknya, sapu tangan yang mirip dengan sapu tangannya yang dulu masih kusimpan. Dan perlahan dia mendekatkan wajahnya kepada wajahku…

Dia akan menciumku lagi!! Ciuman kedua kami, dan yang aku yakin kali ini pasti lebih lembut dan penuh rasa cinta….

10 cm…

8 cm..

TUHAN.. JANTUNGKU BERDEBAR KERAS!!

5 cm…

3 cm…

Dan..

Kkeuchin geoni ne mamsoge
Ije nan deo isang eoptneun geoni
Nan neol neol saenggakhamyeon… Neomu appa appa appa..

Handphone ku berbunyi –"

Kupalingkan wajahku dan melihat nama yang tertera pada layar handphoneku. 'Taeminnie calling….'

Ck..kenapa harus menelpon disaat seperti ini sih, dasar Taemin jelek!

Kutekan tombol virtual berwarna hijau. "Kibum-a….!!!! Kau pasti sudah jadian dengan hyungku kan?? Ck..maaf selama ini aku tidak cerita kepadamu! Tapi aku senang akhirnya kalian berdua bisa berpacaran. Ck..kalian tau, kalian adalah dua orang paling bodoh di dunia ini. Memiliki perasaan yang sama sejak dulu tapi hanya memendamnya sendirian, aku saja kesal melihat kelakuan kalian. Oh ya, besok kita double date ya! Aku punya 4 tiket bioskop! Aku akan mengajak Minho oppa, otte??" Cerocos Taemin membuatku dan Jinki hyung hanya menggeleng-gelangkan kepala. Aku memang sengaja me-loudspeaker agar Jinki hyung juga bisa mendengarnya.

"Aku tidak mau! Karena besok aku akan mengajak Kibum ke perpustakaan untuk menebus janjiku tempo hari, dan aku hanya ingin berdua saja! Oh ya satu lagi aku belum bilang sudah merestui kau dengan Minho!!!" Jinki hyung menjawab setengah berteriak, astaga.. Kakak beradik ini membuatku bertambah pusing.

TUT TUT TUT…

Taemin menutup telponnya secara sepihak, membuat Jinki hyung mengoceh kesal. Ternyata Jinki hyung kurang menyukai Minho dekat dengan Taemin karena dia menganggap Minho adalah seorang playboy, pantas saja Taemin melarangku memberitahukan Jinki hyung kalo aku sering melihat mereka berdua. Hah..hari ini banyak sekali misteri yang terbongkar. Hahahaha

"Kibummie…" Hey..Jinki hyung mulai memanggilku dengan panggilan kecil seperti itu, kedengaran sangat romantis! Aku menyukainya!

"Bolehkan err…kita lanjutkan yang tadi?" Tanya Jinki hyung kikuk.

Aku menunduk malu mendengar pertanyaan bodoh Jinki hyung, sampai akhirnya kuanggukkan kepalaku tanda aku menyetujuinya.

10 cm…

8 cm…

5 cm…

3 cm…

"BERANI MENCIUM ADIKKU KAU AKAN BERHADAPAN DENGANKU!!!"

Aku dan Jinki hyung terpaku mendengar teriakan Jonghyun hyung dari depan kamarku, dia pasti menguping semuanya. Huaaaaaa…kenapa mereka menyebalkan sekali sih!!! Lee Taemin.. Kim Jonghyun… Rasanya aku ingin memukul kepala kalian sekarang juga!!!

-END-

Percayalah..
Setelah awal yang perih pasti ada akhir yang bahagia….

Tunggu FF selanjutnya yaaa…
Insya Allah aku mau buat FF ini yang Onew's POV biar semua jelas. Doakan cepet selesai yaaa :*
Comment dan Like dari kalian bisa buat aku semangat loh :')